Sejarah Kota Depok (19): Sejarah Sawangan dan Onderneming Sawangan; Ibukota Particuliere Landerien Berada di Landhuis
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini
Sejarah Sawangan merujuk pada sejarah Land Sawangan. Tetangga dari Land Depok, Land Mampang, Land Tjinere, Land Tjitajam dan Land Pondok Tjina yang secara ekonomi sudah berkembang sejak era VOC, Land Sawangan justru baru dikembangkan di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan seakan ‘free land’ yang terjepit antara wilayah (area) perluasan ekonomi dari barat (Land Paroeng) dan wilayah perluasan ekonomi dari timur (sisi barat sungai Tjiliwong yang berpusat di Land Depok).
![]() |
| Peta 1901 |
Bagaimana kisah perjalanan (land) Sawangan tentu sangat menarik ditelusuri. Meski sejarahnya lebih pendek jika dibandingkan dengan land yang lain, namun kisah di dalamnya cukup dinamis. Di satu sisi Land Sawangan memang adalah wilayah tertinggal di masa lampau, kurang tersentuh oleh kemajuan, namun di sisi lain, dalam perkembangannya di wilayah Land Sawangan ini juga tumbuh kesadaran kebangkitan bangsa. Pada masa perang kemerdekaan, Land Tjitajam, Land Sawangan dan Land Tjinere adalah garis pergerakan gerilya pribumi menghadapi Belanda. Mari kita lacak.
Land Sawangan
Land Sawangan berkembang dipicu oleh perkembangan yang lebih luas dari Land Bloeboer (Buitenzrog). Padahal tetangganya, Land Depok, Land Pondok Tjina dan Land Pondok Terong sudah berkembang sejak era VOC.
Tidak diketahui sejak kapan dan siapa yang memulai peruntungan di Land Sawangan. Namun cukup kerap terjadi jual dan beli (melalui kantor pelelangan di Buitenzorg), lahan maupun properti lainnya di Land Sawangan antara 1825 hingga 1850. Apakah ini suatu indikasi di Land Sawangan tidak cukup aman? Di Land Sawangan kerap muncul perihal kriminal. Pembunuhan di keluarga pribumi di Kampoeg Tjoerok (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-03-1853), perampokan terhadap satu keluarga Tionghoa (Lho Kim Bie) di Kampong Bodjongsarie yang kehilangan 20 ekor kerbau yang diduga hasil curin dibawa ke Batavia (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-05-1853). Land Sawangan juga kerap dijadikan sebagai pelintasan perampok dari Batavia yang melakukan operasi di Buitenzorg dan sekitarnya. (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1879).
Situasi dan kondisi serupa itu seakan menggambarkan Land Sawangan sulit akses, sedikit terpencil (baik dari sisi barat di Paroeng maupun dari sisi timur di Depok) dan kurang aman. Land Sawangan kurang diminati orang Eropa/Belanda yang boleh jadi populasi orang Tionghoa dan Eropa/Belanda kerap menjadi sasaran.
Namun demikian, Land Sawangan tentu saja tetap menyimpan potensi ekonomi. Sebagaimana diketahui, Land Sawangan merupakan satu-satunya land di Kota Depok yang sekarang di masa lampau (pada sisi barat sungai Tjiliwong) yang tidak menerima kucuran air irigasi dari bendungan Empang dari sungai Tjisadane yang berada di Buitenzorg (di sisi timur sungai Tjiliwong, Land Tjilodong, Land Tapos dan Land Tjimanggis mendapat aliran irigasi yang bersumber dari bendungan Katoelampa dari sungai Tjiliwong).
Topografi Land Sawangan yang cenderung bergelombang, secara alamiah sungai berada di bawah: sungai Pesanggrahan dan sungai Kali Angke. Akibatnya, pengembangan pencetakan sawah baru dan pembukaan perkebunan baru sulit dilaksanakan. Meski demikian untuk menjadikan Land Sawangan menjadi lahan yang beririgasi baik jalan keluar selalu ada. Hal ini pernah dialami oleh Land Tandjong West (awalnya lahan peternakan) dan Land Pondok Tjina (cukup lama dibiarkan sebagai lahan telantar).
Landhuis
Secara historis, penguasaan wilayah adalah dasar pembentukan koloni. Ini dimulai dengan kolonisasi di hilir sungai Tjiliwong di dekat pelabuhan Soenda Kalapa yang awalnya membangun benteng yang kemudian disebut casteel Batavia. Dari sinilah wilayah koloni meluas ke hulu sungai Tjiliwong. Awalnya casteel Batavia berkembang menjadi kota (stad) Batavia dimana Gubernur Jenderal berkedudukan. Rumah Guebernur Jenderal yang berada di Stad Batavia kemudian disebut Stadhuis (kelak stadhuis ini dipindahkan ke Nordwijk (tempat dimana Istana Presiden sekarang).

Land Sawangan adalah land yang sudah sejak lama ada, namun baru dikenal secara luas di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan ini memiliki batas-batas di dua sisi sungai (sungai Pesanggrahan dan sungai Angke) dan batas Land Tjitajam di selatan dan Land Mampang dan Land Tjinere di utara. Letak landhuis (rumah Landheer) yang dengan sendirinya menjadi ibukota Land Sawangan berada di selatan jalan akses Paroeng-Depok. Landhuis ini kira-kira di Desa Bedahan yang sekarang.
Pemilihan di lokasi dimana landhuis ditetapkan oleh Landheer sangat penting. Faktor penting penetapan ini berada di dekat lahan subur yang akan dijadikan plantation. Di sekitar landhuis (rumah landheer) biasanya terdapat gudang, kantor, bangunan bengkel/perlengkapan dan bangunan-bangunan berupa barak untuk tempat para tenaga kerja atau budak. Landhuis sebagai wujud koloni, pemilihan landhuis juga mempertimbangkan jarak tertentu dengan (per)kampung asli.
![]() |
| Peta pajak, 1930 |
Dalam perkembangan lebih lanjut Land Sawangan ternyata memberi kontribusi yang berarti dalam bidang ekonomi. Lahan-lahan semakin intens diusahakan, lahan yang kurang subur ditingkatkan kesuburannya, termasuk dengan pembangunan irigasi kecil maupun irigasi besar. Jika tahun 1825 nilai pajak sebesar f7.973, nilainya sudah jauh meningkat pada tahun 1930 yakni menjadi f310.000. Land Sawangan yang terbilang luas, nilai pajak Land Sawangan juga merupakan nilai yang tertinggi dari seluruh land yang yang menjadi bagian dari Kota Depok yang sekarang (lihat peta pajak).
Situ Pasir Poetih

Di Kota Depok yang sekarang di masa lampau, sejumlah rawa berskala besar dibentuk menjadi situ, seperti Situ Pitara di Land Depok dan Situ Tjitajam di Land Pondok Terong. Ini juga yang terjadi dengan terbentuknya Situ Pasir Poetih.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kerusuhan
Land Sawangan, land yang sedikit agak sulit akses ke pusat-pusat Eropa (Depok dan Paroeng) kerap terjadi ketegangan antara planter Eropa/Belanda dengan prnduuduk asli.
Baron de Krom Bruges yang dikenal sebagai pemilik Land Sawangan melaporkan kerap terjadi kerusuhan di sekitar (Bataviaasch nieuwsblad, 27-11-1926). Kuli-kuli yang dimilikinya sering menjadi sasaran oleh para penduduk asli.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Akses Depok-Sawangan Dibuka
Jalan akses Depok ke Sawangan atau sebaliknya, secara tradisonal sudah ada sejak lama berupa jalan setapak/pedati yang penuh lumpur di waktu hujan. Pembicaraan peningkatan jalan akses tersebut sudah dilakukan beberapa kali konferensi antara Administrateur (Onderneming) Sawangan dan Gemeente Besturr Depok. Baru tahun 1936 mulai mengerucut ketika dilakukan konferensi yang dihadiri oleh Asisten Wedana Depok. Dalam keputusan akhir ini, kedua belah pihak terlibat. Diharapkan dengan adanya jalan akses ini, Sawangan dalam waktu singkat dibebaskan dari isolasi, demikian De Indische courant, 13-07-1936. Dalam pembicaraan ini juga termasuk satu paket dengan pembukaan jalan baru ke Mampang Oedik.
![]() |
| De Indische courant, 13-07-1936 |
Dengan selesainya jalan akses Depok-Sawangan maka secara keseluruhan wilayah yang menjadi bagian Kota Depok sekarang sudah terhubung dengan baik melalui jalan aspal. Sebagaimana diketahui, jalan akses Depok-Tjimanggis telah terbuka yang ditandai dengan pembangunan jembatan di atas sungai Tjiliwong tahun 1917 dan perbaikan jalan akses antara Depok dan (simpangan) Tjimanggis selesai tahun 1922.
Cara pandang sejak era Pakuan (Buitenzorg) - Soenda Kalapa (Batavia) selalu melihat garis lurus dari gunung (selatan) ke pantai (utara) atau sebaliknya. Tidak pernah tepikirkan irisan jalan dari timur Oosterweg sisi timur sungai Tjiliwong dengan barat Westerweg sisi barat sungai Tjiliwong. Untuk sekadar catatan: Tahap pertama adalah pembangunan jalan ribntisan Westerweg oleh para pionur perkebunan di sisi barat sungai Tjiliwong yang menghubungkan Batavia, Sringsing (Tansjong West), Pondok Tjina, Depok, Ratoe Djaja, Pondok Terong dan Bojong Gedeh. Jalan ini diduga sebagai julan utama bahkan sejaka era Pakuan-Padjajaran. Tahap kedua adalah pembangunan jalan Oosterweg sisi timur sungai Tjiliwong di era VOC terutama sejak istana Buitenzorg dirintis tahun 1745. Tahap ketiga, setelah era Pemerintah Hindia Belanda, Buitenzorg semakin berkembang pesat, bekembangnya lebih menyasar ke arah barat sebagai wilayah pengembangan perkebunan yang baru seperti di Paroeng dan sekitarnya. Akibatnya jalan akses Buitenzorg-Tangerang via Paroeng lebih lancar yang kemudian dikenal sebagai Westerweg. Sementara jalan Westerweg melalui Depok bergeser namanya menjadi Miidenweg (jalan tengah). Pada tahun 1873 jalur kereta api seakan mengganti popularitas Middenweg. Meski demikian adanya, irisan jalan (timur barat) yang menghubungkan tiga jalan antara Batavia-Buitenzorg tersebut tidak pernah terwujud hingga tahun 1917 (di atas sungai Tjiliwong) dan 1936 di atas sungai Pesanggrahan.
Tunngu deskripsi lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar