Sejarah Kota Depok (12): Sejarah Perkebunan di Depok dan Sekitarnya; Gula, Kopi Hingga Karet
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini
Setiap wilayah memiliki kekhususan sendiri dalam bidang perkebunan. Preanger terkenal dengan kopi dan kina, Buitenzorg terkenal dengan kopi dan teh, Deli terkenal dengan tembakau dan kelapa sawit. Lantas, Depok dan sekitarnya terkenal dengan tanaman dan perkebunan apa? Itu pertanyaannya yang perlu ditelusuri. Keutamaan Depok dan sekitarnya dalam peta sejarah perkebunan Indonesia karena terbilang awal dan eksistensinya masih terlihat masif hingga tahun 1970an.
![]() |
| Onderneming Chastelein di Sringsing (sejak 1691) |
Pionir-pionir perkebunan juga perlu ditelusuri. Di Deli terkenal dengan nama Nienhuys (tembakau), di Preanger terkenal dengan Junghuhn (kina), di Buitenzorg terkenal dengan Motman (hortikultura). Lantas di Depok dan sekitarnya siapa? Tentu saja yang pertama Cornelis Chastelein. Lantas siapa pionir-pionir berikutnya di Depok dan sekitarnya. Itu juga pertanyaan penting dan memerlukan penelusuran. Mari kita lacak.
Land Depok
Pada saat Cornelis Chastelein membuka lahan pertanian di Depok tahun 1696, komoditi ekspor VOC dari Hindia Timur masih berupa komoditi kuno seperti benzoin, kamper, pala, lada, puli dan gambir. Semua itu masih produk hutan yang didatangkan dari Maluku, Barus dan sebagainya.
![]() |
| 36 jenis komodi ekspor VOC |
Perdagangan komoditi-komoditi kuno ini telah berlangsung sekitar dua abad sejak ekspedisi Cornelis de Houtman tiba di Soenda Kalapa dan VOC mendirikan koloni di Batavia tahun 1619 hingga dimulai komoditi modern yang dibudidayakan di Batavia dan sekitarnya pada akhir abad ke-17. Komoditi modern tersebut adalah gula (suiker). Perkebunan gula ini dilakukan oleh investor-investor VOC dengan mendatangkan kuli dari Tiongkok. Industri gula ini dengan cepat merangsek hingga ke hulu sungai Tjiliwong termasuk bidang usaha yang dilakukan oleh Cornelis Chastelein di Depok.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar