Sejarah Bogor (12): Ekspedisi, Orang Eropa Pertama Tiba di Bogor 1687; Pieter Scipio Bangun Benteng Padjadjaran
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
Pada era Portugis, gambaran tentang hulu sungai Tjiliwong hanya ditemukan dalam Pelabuhan Soenda Kelapa (Thome Pires, 1535). Dalam laporan Portugis pada hulu sungai Tjiliwong terdapat kerajaan lokasi ibukotanya dipercaya Dajo. Masih dalam laporan Portugis, pada tahun 1522 utusan kerajaan meminta donasi Portugis di Malaka buat membantu. Tetapi pasukan Portugis terlambat datang, waktu Banten yg beragama Islam telah menaklukkan kerajaan dalam tahun 1523.
![]() |
| Benteng Padjdjaran (Peta ekspedisi Scipio, 1687) |
Kolonisasi Meluas ke Pedalaman
Kolonisasi Belanda (VOC) yang berpusat dalam Batavia motif awalnya perdagangan (1619)
![]() |
| Peta Portugis |
Ini berarti sejak 1666, VOC mulai menganggap penting penduduk asli, utamanya di kota-kota pantai. Dengan begitu dimungkinkan membentuk koloni baru, kota baru seperti Batavia sebagaimana kemudian terbentuk kota koloni (benteng) di Semarang, Soerabaja dan Padang. Lalu dari kota-kota pantai, koloni-koloni baru dikembangkan ke pedalaman.
Hal inilah yang terjadi ke pedalaman di berbagai tempat, termasuk di hulu sungai Tjiliwong. Ekspedisi pertama ke hulu sungai Tjiliwong dimulai pada tahun 1687 yang dipimpin oleh Sersan Pieter Scipio.
Ekspedisi ke Hulu Sungai Tjiliwong
Ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong dimulai tahun 1687. Laporan ekspedisi ini telah didokumentasikan dalam bentuk peta ekspedisi yang berjudul Lantkaat van Batavia na de Zuyd, zee door den Sergt Scipio, 1695. Ekspedisi pertama ini tidak dimulai dari Batavia, melainkan dari selatan melalui sungai besar di Pelabuhan Ratu yang sekarang hingga berakhir di Meester Cornelis. Seperti biasanya, ekspedisi tidak dalam konteks membuka jalan baru, sebaliknya mengikuti jalan lama yang sudah ada dan umum digunakan penduduk asli.
![]() |
| Pelabuhan Ratu (Peta ekspedisi Scipio, 1687) |
Ekspedisi-ekspedisi sebelumnya di (pulau) Jawa selalu dimulai dari (pantai) utara. Ekspedisi yang dipimpin Scipio merupakan ekspedisi (Belanda) yang dilakukan. Sejauh ini, (pantai) selatan Jawa sudah lama terabaikan oleh Belanda, yang selalu lalu lalang di selatan Jawa adalah Portugis dan Spanyol. Ini terkait dengan koloni mereka yang tersisa di Timor. Hal ini dapat dibandingkan peta-peta yang dibuat oleh Portugis, selalu dibuat detil di selatan dibandingkan di (pantai) utara. Sedangkan peta-peta yang dibuat Belanda lebih detil di (pantai) utara.
Benteng Padjadjaran Cikal Bakal Istana Bogor
Yang menarik dalam peta ekspedisi ini, diantara dua sungai besar (Ciliwung-Cisadane) yang berada pada persinggungan terdekat didirikan benteng. Benteng ini ditulis dalam peta sebagai Fort Padjadjaran. Tidak diketahui mengapa disebut Fort Padjadjaran, namun satu fakta dalam peta ini ditulis nama gunung Padjadjaran (gunung yang berada di hulu sungai Ciliwung dan sungai Cisadane yang diduga gunung Pangrango yang sekarang).
Fort Padjadjaran ini disebut demikian, boleh jadi bukan karena mengikuti nama gunung, tetapi diduga mengikuti nama yang ditemukan di area benteng (fort) ini. Jika disebut Fort Padjadjaran dapat diartikan sebagai berikut: Pertama, ekspedisi yang dipimpin Scipio ini berdiam lama di area dua sungai terdekat ini yang bertujuan untuk melakukan eksplorasi wilayah lebih luas. Kedua, Kedua, tim ekspedisi menetapkan lokasi benteng sebagai pusat identifikasi sebagai penanda dalam navigasi militer. Ketiga, karena pos (militer) tim ekspedisi ini sudah ditetapkan dan tim bekerja cukup lama, boleh jadi tim menemukan lokasi mereka sebagai bekas kerajaan yang sudah lama diketahui tetapi belum dicatat namanya. Dari situ nama Padjadjaran muncul. Sebab antara tahun ekspedisi (1687) dan tahun penyalinan (kembali) peta tahun 1695 (delapan tahun) banyak hal yang terjadi di sekitar area dua sungai khususnya di dalam perkembangan benteng.
![]() |
| Benteng Philipina (eks benteng Padjadjaran), Lukisan 1772) |
Lokasi benteng ini yang dimulai dari ekspedisi Scipio (1687) dalam perkembangannya menjadi lokasi tempat peristirahatan (villa, buiten zorg) yang dibangun sejak tahun 1745 oleh Baron van Imhoff. Namun villa ini hancur dalam perang melawan raja Banten tahun 1752. Lalu kemudian dibangun dua villa baru di belakang benteng. Villa ini seperti dua villa sama dan sebangun (kembar) yang mana tampak dari depan (air mancur) benteng seakan berada di tengah dua villa tersebut. Dua vila, masing-masing berukuran 30 x 15 meter. Benteng kecil yang disebut Fort Philipina dijadikan sebagai garnisun militer yang dihuni oleh 16 tentara. Sebagaimana kelak diketahui, akibat gempa besar dua villa ini hancur dan dibagun istana (Istana Buitenzorg). Akan tetapi akibat genmpa yang terjadi tahun 1824 istana ini hancur dan dibangun kembali tahun 1834 (sebagaimana bentuknya yang terlihat hingga ini hari). Ketika tahun 1834 istana dibangun kembali, garnisun militer (eks benteng Philipina, eks benteng Padjadjaran) dipindahkan ke luar istana yang berada tepat di depan pintu gerbang istana (POM militer yang sekarang di sisi jalan Sudirman dekat lampu merah).
Dengan demikian, apa yang bisa kita lihat sekarang tentang Istana Bogor (eks Istana Buitenzorg) sesungguhnya bermula dari suatu benteng yang disebut Fort Padjdjaran (kemudian namanya menjadi benteng Philipina). Benteng ini awalnya penanda navigasi militer, kini menjadi penanda navigasi destinasi wisata. Semua itu berawal dari ekspedisi pertama orang Eropa/Belanda ke hulu sungai Ciliwung yang dipimpin oleh Sersan Pieter Scipio.
Ekspedisi berikutnya baru dilakukan pada tahun 1701 setelah peta ekspedisi Scipio ini dirilis. Ekspedisi kedua ini tentu saja mengikuti petunjuk peta ekspedisi Scipio. Ekspedisi ini dipimpin Michiel Ram dan Cornelis Coops. Ekspedisi ketiga dilakukan tahun 1703 yang dipimpin oleh Abraham Jan van Riebeeck. Dua deskripsi ekspedisi ini akan dibuat dalam dua artikel yang berbeda.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar