Sejarah Bogor (11): Digitalisasi Dokumen Sejarah di Bogor; Memutar Jam Kembali ke Masa Lampau
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
Sejarah sering dilupakan
![]() |
| Indonesia doeloe, 1617 (peta Portugis) |
Digitalisasi Dokumen Sejarah
Digitalisasi dokumen sejarah sangat penting. Tidak hanya sekadar orang dewasa ingin mendekatkan diri kepada generasi milenial, melainkan lebih pada misi mempersiapkan apa yang diperlukan oleh generasi milineal nanti. Hal yang penting dari itu, setiap orang bisa mengakses siapapun dia dan dimanapun berada agar penulisan sejarah mendekati kebenaran. Inilah pentingnya digitalisasi dokumen sejarah. Tentu saja digitalisasi dokumen sejarah akan mempercepat proses penulisan sejarah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Dokumen sejarah Kota Bogor bahkan tidak kurang dari 3000 dokumen dalam bentuk naskah, lukisan/foto dan peta sejak lama tersimpan dan siap digitalisasi. Digitalisasi dokumen sejarah tidak hanya penting tetapi juga dengan sendirinya memperkaya kota.
![]() |
| Indonesia era digital, 2017 (googlrmap) |
Pemerintah Kota Bogor telah memulainya. Ini harus diapresiasi. Kita selama ini sangat tergantung kepada ahli sejarah yang dari mereka hanya segelintir yang punya kesempatan ke perpustakaan dan ruang naskah kuno di Leiden. Namun adakalanya, diantara mereka ahli sejarah ada yang ‘sedikit nakal’: di satu sisi menggelembungkan sesuatu yang kecil dan di sisi lain juga mengerdilkan sesuatu yang besar. Ini ironis.
Selama ini kita hanya sangat tergantung dari analisis yang telah dilakukan oleh seorang mantan Residen J. Daes yang diterbitkan Albrecht tahun 1902 dengan judul Geschiedenis van Buitenzorg (437 halaman, I-XIX dan lampiran..
Tapi era digitalisasi sekarang sesuatu yang diterima selama ini dapat terkoreksi dan juga dapat dikoreksi. Proses eliminasi dengan sendirinya terjadi: Sejarah kita dimurnikan. Digitalisasi dokumen sejarah jaminannya.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar