Sejarah Bandung (37): KF Holle, Tokoh Pendidikan di Preanger; Kweekschool Bandoeng Dibuka 1866
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini
Seseorang menulis pada surat berita Java Bode 03-02-1864 mengindikasikan bahwa dalam Bandoeng dibutuhkan 15 pengajar. Tetapi nir mudah menggunakan cara mengirim anak didik buat studi ke Belanda (contohnya yg sudah dilakukan sang Willem Iskander). Pembaca menulis ini akbar dugaan merupakan KF. Holle.
![]() |
| KF Holle, 1860 |
KF Holle merupakan seorang pengusaha perkebunan sukses dalam Preanger. Pengusaha perkebunan ini ternyata sangat suka belajar, memeriksa budaya
![]() |
| Rumah Junghuhn di Lembang, 1860 |
KF Holle yang dekat dengan penduduk dan pemimpinnya dianggap pemerintah orang yang ideal untuk menjembatani misi pemerintah dan kebutuhan penduduk. KF Holle diangkat pemerintah setara sebagai pejabat pemerintah. Hal serupa ini juga pernah dialami oleh Junghuhn selain bertugas untuk pemetaan geologi dan botanis di Tapanoeli juga diangkat pemerintah pusat sebagai pejabat yang diperbantukan di daerah (1842-1843). Peran seperti inilah yang diduga mempercepat proses pembentukan sekolah guru (kweekschool) di Bandoeng. Sebagai upaya untuk menyediakan guru agar pada gilirannya pendidikan tersebar luas di seluruh Preanger (bahkan West Java) perlunya sekolah guru sangat penting. KF Holle telah melihat itu.
![]() |
| Dr. Gronemen, 1860 |
![]() |
| Kweekschool Bandoeng, 1860 |
Pada pembukaan Kweekschool Bandoeng hanya dihadiri direktur pendidikan pribumi dari Batavia dan Residen Preanger yang berkedudukan di Tjiandjoer. Mr. JA. van der Chijs, Inspektur Pendidikan Pribumi justru melakukan inspeksi dan datang untuk melakukan penilaian langsung terhadap Kweekschool Tanobato (Juni 1866). Hasil kunjungan van der Chijs ke Tanobato sangat mengharukan dan menghebohkan. Dampaknya pendidikan di Jawa terguncang.
Mr. JA. van der Chijs, Inspektur Pendidikan Pribumi segera setelah dari Kweekschool Tanobato, Kementerian Pendidikan lalu mempercepat perbaikan pendidikan di Jawa setelah pemerintah di kritisi oleh parlemen. Terungkap bahwa terdapat 15 dari 22 residentie di Jawa belum memiliki pendidikan. Sekolah guru Soerakarta tidak memadai untuk seluruh Jawa, sementara sekolah guru Bandoeng justru baru dimulai.
Hasil Kunjungan Chijs ke Mandailing dan Angkola: Reformasi Pendidikan di (pulau) Jawa
Laporan kunjungan Chijs telah dikutip/dilansir semua surat kabar di Hindia Belanda dan di Negeri Belanda, seperti di Rotterdam, Amsterdam dan Haarlem, Algemeen Handelsblad dan Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie di Batavia, De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad di Semarang, Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad di Padang.
Seketika berubah semuanya, pandangan orang luar terhadap Tanah Batak, paling tidak di afdeeling Mandailing dan Angkola berubah 360 derajat yang mana 180 derajat kesan primitif menghilang dan 180 derajat tidak diduga telah memiliki sistem pendidikan yang terbaik di Hindia Belanda. Inilah sumbangan fantastis Willem Iskander di Tapanoeli khususnya di afdeeling Mandailing dan Angkola. Iskander Effect tengah bekerja.
Iskander Effect tidak hanya telah mengalami difusi jauh hingga ke pelosok-pelosok terpencil di Tapanoeli, juga mengguncang wilayah-wilayah di Jawa. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868 yang mengutip dari surat kabar Soerabayasch Handelsblad edisi 5 November sangat menyentuh: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato) pantai barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’.
Rupanya tulisan (laporan) Chijs itu telah menggelinding kemana-mana bahkan di pusat kekuasaan kolonial di Jawa. Afdeeling Mandailing en Angkola telah menjadi ‘kiblat’ perubahan, perubahan yang sangat fundamental di Hindia Belanda. Kweekschool Tanobato adalah sekolah swasta (dukungan partisipasi pemimpin local di Mandailing dan Angkola).
Laporan Chijs juga mengindikasikan sekolah guru di Fort de Kock gagal total. Menurut Chijs sekolah guru Fort de Kock tidak pantas memakai nama sekolah guru. Sebaliknya sukses besar di Tanobato. Laporan Chijs menggarisbawahi siswa-siswa Tanobato juga belajar tiga bahasa sekaligus. Menurut Chijs di sini (maksudnya Tanobato) bahasa Melayu diajarkan oleh orang non Maleijer, di negara non-Melayu dengan sangat baik. Buku Braven Hendrik yang terkenal di Eropa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandailing/Angkola.
Adanya kemajuan pendidikan tak terduga di Mandailing dan Angkola menyadarkan pemerintah untuk segera membangun sekolah guru di Bandoeng. Tahun 1865 Kweekschool Tanobato diakuisisi pemerintah dan dijadikan sekolah guru negeri. Kweekschool Bandoeng mulai dibuka tahun 1866, Dengan demikian sekolah guru negeri menjadi empat buah: Soerakarta (1852), Fort de Kock (1856), Tanobato (1865) dan Bandoeng (1866).
Reaksi mulai bermunculan, tidak hanya dari kalangan pribumi tetapi juga diantara orang-orang Eropa/Belanda. Sekolah guru Tanobato, sekolah guru yang diasuh oleh Willem Iskander adalah sekolah yang tidak diinginkan. Karena pemerintah hanya menginginkan sekolah guru terbatas di Soerakarta (Jawa) dan di Fort de Kock (Sumatra). Namun pemerintah segera menyadari dan langsung membangun sekolah guru di Bandoeng dan mengakuisisi sekolah guru yang sudah berdiri di Mandailing dan Angkola.
Arnhemsche courant, 13-11-1869: ‘…Hanya ada 7.000 siswa dari jumlah populasi pribumi yang banyaknya 15 juta jiwa. Anggaran yang dialokasikan untuk itu kurang dari tiga ton emas. Hal ini sangat kontras alokasi yang digunakan sebanyak 6 ton emas hanya dikhususkan untuk pendidikan 28.000 orang Eropa… lalu stadblad diamandemen untuk mengadopsi perubahan yang dimenangkan oleh 38 melawan 26 orang yang tidak setuju’.
Setelah adanya perubahan dan kemenangan di parlemen (dewan) oleh yang pro, diantara yang pro ada yang mengungkapkan kekecewaannya selama ini sebagaimana dilaporkan oleh Algemeen Handelsblad, 26-11-1869: ‘…kondisi pendidikan pribumi di Java adalah rasa malu untuk bangsa kita (Belanda). Dua atau tiga abad mengisap bangsa ini, berjuta-juta sumber daya penghasilan telah ditransfer ke ibu pertiwi (Kerajan Belanda), tapi hampir tidak ada hubungannya untuk peradaban pribumi di sini (Hindia Belanda)…’.
Sementara di Mandailing Angkola, tidak hanya Willem Iskander yang menulis buku-buku pelajaran, juga guru-guru sekolah dasar (alumni Kweeskschool Tanobato) menulis buku-buku pelajaran. Sebagian dari buku-buku yang ditulis itu dicetak di Padang dan Batavia. Buku pelajaran yang ditulis Willem Iskander sudah ada yang dicetak di Batavia tahun 1865.
Langkah pertama yang akan dilakukan di Jawa adalah untuk melanjutkan pengembangan pendidikan di 15 ibukota kabupaten, dimana tidak ada sekolah berada selama ini. Namun tidak disebutkan nama-nama 15 ibukota afdeeling tersebut. Jika jumlah ibukota tahun 1865 sebanyak 23 maka baru delapan ibukota yang memiliki sekolah.
Di Residentie Tapanoeli yang mana ibukota sudah terbentuk di enam kabupaten (Natal, Mandailing dan Natal, Sibolga, Baroes, Singkel dan Nias), pada tahun 1870 sudah ada 10 sekolah negeri yang didirikan. Tujuh diantaranya berada di afdeeling Mandailing dan Angkola dan masing-masing satu buah di afd. Natal, afd. Sibolga dan afd. Nias. Pada tahun 1870 bertepatan ibukota Afdeeling Mandailing dan Angkola dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempuan. Di ibukota baru ini sudah terdapat dua sekolah negeri (Batoenadoea dan Hoetaimbaroe).
Pengembangan pendidikan di Jawa mulai menemukan jalan keluar. Pendirian sekolah guru di Bandoeng yang dibuka tahun 1866 telah diperluas ke Jawa Tengah dengan membangun sekolah guru di Oengaran.
Ini berarti bahwa sekolah guru, selain di Solo, Bukittingi, Tanpbatoe juga di Bandoeng dan Oengaran.---kemudian di Probolinggo.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar