Sejarah Tangerang (14): Sejarah Layanan Kesehatan di Tangerang; Wabah Kolera 1874 Picu Penempatan Dokter di Tangerang
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang pada blog ini Klik Disini
Dua abad kehadiran orang Eropa/Belanda dalam Tangerang nyaris tidak masih ada perhatian terhadap pengembangan sosial penduduk. Kehidupan hanya menguntungkan pemilik huma (landheer). Penduduk nir berdaya. Apabila pun ada keuntungan sosial yang diterima hanya sekadar peningkatan akses yg lebih lancar ke bunda kota (stad) Batavia. Memang penduduk sebagai kosmopolitan, namun nir mempunyai segalanya: nir memiliki huma, nir ada sekolah & jua tidak menerima layanan kesehatan. Itulah riwayat kelam penduduk pada daerah Tangerang.
![]() |
| Mahasiswa dan Docter Djawa School di Batavia (1902) |
.
Penduduk yang sakit tidak tahu haru berobat kemana. Hanya penduduk yang terluka parah seperti dicakar harimau yang mendapat akses ke rumah sakit kota di Batavia. Kondisi ini selama berlangsung hingga muncul wabah kolera tahun 1874. Pemerintah bergegas memberikan layanan kesehatan bagi penduduk. Motivasinya bersifat sekunder. Motivasi utama sesungguhnya adalah untuk melindungi ibu kota Batavia terhadap ancaman epidemik. Itulah awal riwayat layanan kesehatan di Tangerang. Bagaimana selanjutnya? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Dokter Pribumi dan Docter Djawa School di Batavia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





Tidak ada komentar:
Posting Komentar