Sejarah Jakarta (113): Sejarah Pondok Ranggon, Kampong Setua Pondok Gede di Timur Sungai Sunter; Bumi Perkemahan
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
Pondok Ranggon (kini masuk Jakarta Selatan) bukanlah nama kampong baru, namun kampong yg setua Pondok Gede (kini masuk Kota Bekasi). Kampong Pondok Ranggon telah masih ada semenjak era VOC/Belanda. Kampong Pondok Ranggon sangatlah luas. Kampong Pondok Ranggon diakses berdasarkan Pondok Gede via Pondok Melati. Jalan akses ini kini dikenal menjadi jalan Hankam/Kranggan. Sedangkan Cibubur merupakan kampong baru. Di kelurahan Pondok Ranggon kini dikenal menjadi area bumi perkemahan, jua area TPU. Dimana posisi GPS origin kampong Pondok Ranggon?
![]() |
| Pondok Ranggon dari masa ke masa |
.
Lantas misalnya apa sejarah Pondok Ranggon? Nah, itu dia. Belum pernah ditulis. Sebagai bagian berdasarkan penulisan Sejarah Jakarta, nama Pondok Ranggon haruslah menerima tempat terhormat karena Pondok Ranggon jua termasuk kampong tua. Untuk menambah pengetahuan, ayo kita telusuri asal-sumber tempo doeloe.
Sumber primer yang digunakan dalam artikel ini adalah ?Asal primer? Seperti surat informasi sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), lantaran aku anggap kitab juga merupakan output kompilasi (analisis) berdasarkan dari-asal primer. Dalam penulisan artikel ini nir seluruh sumber disebutkan lagi lantaran telah dianggap dalam artikel saya yg lain. Hanya dari-asal baru yang disebutkan atau berasal yg sudah pernah dipercaya di artikel lain disebutkan pulang pada artikel ini hanya buat lebih menekankan saja*
Land Pondok Ranggon: Dimana Originnya?
Dimana posisi GPS nama Pondok Ranggon bermula, bukanlah dalam kelurahan Pondok Ranggon, kecamatan Cipayung, Jakarta Timur yang kini , akan namun berada pada kelurahan Jatiranggon, kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Bagaimana mampu? Membingungkan, bukan? Namun sejarah sanggup menjelaskannya. Sejarah tetaplah sejarah. Sejarah adalah narasi kabar dan data.
![]() |
| Kelurahan Pondok Ranggon originnya di Kecamatan Jatisampurna |
Pada era kolonial Belanda (sejak 1865), Afdeeling Meester Cornelis terdiri dari tiga district, yaitu: Meester Cornelis, Kebajoran dan Bekasi. Batas antara district Meester Cornelis dengan district Bekasi adalah sungai Soenter. Di selatan dua district ini adalah Afdeeling Buitenzorg (Bogor). Perbatasan antara dua district ini kemudian menjadi batas antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Batas ini tidak pernah berubah hingga sekarang.
Pada pembentukan sejumlah onderdistrict pada tahun 1904 (lihat Nota over de reorganisatie van het bestuurstoezicht over de particuliere landerijen bewesten de Tjimanoek, 1904), district Meester Cornelis terdiri dari empat onderdistrict, yakni: Meester Cornelis, Pasar Minggoe, Tandjoeng dan Poelo Gadoeng; sementara district Bekasi terdiri dari onderdistrict, yakni: Bekasi, Tjilintjing, Tjikarang dan Pebajoran. Onderdistrict Tandjoeng terdiri dari sejumlah land yang terdiri dari: Tjondet, Kampong Makassar, Tandjoeng Oost, Lenteng Agoeng, Rambal, Kalapa Doewa, Kranggan, Tjilangkap, Tjiboeboer, Pondok Ranggon-Pambilangan, Doewaratoes. Sedangkan onderdistrict Bekasi terdiri dari land-land: Pondok Gede, Tjikoenir, Bekasi, Tanah Doeraratoes Lima Poeloeh, Rawa Domba, Pondok Kelapa, Tjakoeng-Oedjoeng Krawang, Rawa Pasoeng, Karang Tengah, Oedjoeng Menteng, Papisangan, Soekapoera, Telok Poetjoeng dan Soengai Kendal.
Dalam pembagian land, area land Pondok Gede berada di sisi timur sungai Soenter dan land Tjiboeboer dan land Pondok Ranggon-Pambilangan berada di sisi barat sungai Soenter. Dalam perkembangan berikutnya, land Pondok Ranggon-Pambilangan dipecah yang mana land Pambilangan bediri sendiri dan land Pondok Ranggon disatukan dengan dengan land Tjiboeboer (lihat Peta 1914). Nama land Pondok Ranggon tamat. Dalam perkembangannya nama land Pambilangan disatukan oleh pemiliknya ke dalam land Tjiboeboer (lihat Peta 1940). Nama land Pambilangan juga tamat.
Pada era VOC/Belanda, land Tjiboeboer dan land Pambilangan belum ada. Land yang sudah ada adalah land-land berikut (lihat Peta 1775): Pondok Gede, Pondok Melati dan Pandok Ranggon. Land Pondok Ranggon ini sangat luas, berada di selatan land Pondok Melati. Perkampongan di land Pondok Ranggon terdapat di tiga titik yang semuanya berada di jalan poros (kini jalan Hankam). Dalam perkembangannya perkampongan Pondok Ranggon yang ketiga (paling ujung) relokasi ke sisi barat sungai Soenter.
Pada era Pemerintah Hindia Belanda, land Pondok Gede dibeli oleh Johannes van den Bosch. Dalam perkembangannya land Pondok Melati dan land Pondok Ranggon diakuisisi Johannes van den Bosch dan menggabungkan ketiga land miliknya dengan nama land Pondok Gede. Nama land Pondok Melati dan land Pondok Ranggon tamat. Johannes van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833).
![]() |
| Pondok Ranggon di Tjiboeboer dan di Pondok Gede (Peta1914) |
Pada era Republik Indonesia, di eks land Tjiboeboer (yang masuk kecamatan Pasar Rebo) terbentuk sejumlah desa (gabungan dari kampong) seperti desa Tjiboeboer, desa Tjiratjas, desa Tjipajoeng, desa Tjilangkap, desa Bamboeapoes dan desa Tjeger. Sementara di eks land Pondok Gede (kecamatan Pondok Gede) terbentuk tujuh desa antara lain desa Djatiwaringin dan desa Pondok Melati.

Pondok Ranggon: Tempo Doeloe Jauh di Mata (Terpencil), Kini Dekat di Hati (Bumi Perkemahan Pramuka)
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar