Sejarah Jakarta (106): Sejarah Jembatan Lima, Asal-Usul Jembatan di Fort Vijfhoek (5 Sudut) Jadi Kampong Jembatan Lima
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini
Asal-usul nama (kelurahan) Jembatan Lima bukan berdasarkan 5 jembatan yang berjejer sebagaimana ditulis yang mampu dibaca pada internet. Itu sangat naif (ngarang). Nama Jembatan Lima bermula menurut kebaradaan benteng (fort) Vijfhoek yg jumlah sudut (hoek) sebesar 5 butir. Benteng ini berada dalam sisi barat sungai Grogol. Dalam perkembangannya ruas sungai Grogol dalam lebih kurang benteng Vijfhoek dirapihkan sebagai kanal. Di atas kanal ini pada dekat Fort Vijfhoek dibangun jembatan menuju benteng baru (fort Angke). Area di lebih kurang jembatan Fort Vijfhoek inilah lalu diklaim kampong Djambatan Lima. Jembatan benteng 5 sudut (hoek) mereduksi menjadi Jembatan Benteng Lima
![]() |
| Jembatan sungai Grogol di Benteng (Fort) Vijfhoek (1772-1775) |
Lantas bagaimana sejarah lengkap Jembatan Lima? Tentu saja itu harus dimulai dari benteng Fort Vijfhoek. Satu pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang pernah bertugas di benteng ini adalah pasukan dari Tambora. Orang-orang Tambora ini membangun kampong di sekitar benteng (kampong Tambora dan kini kelurahan Tambora). Dalam perkembangan selanjutnya banyak peristiwa penting yang terjadi di sekitar Jembatan Lima. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Jembatan di Benteng (Fort) Vijfhoek (Peta 1740 dan Peta 1824) |
Fort Vijfhoek dan Fort Angke
Penetapan benteng-benteng berdasarkan resolutie van Gouverneur Generaal en Raden tanggal 12 Mei 1656 antara lain pembangunan benteng di Jacatra, Noordwijk dan Ryswyck. Benteng-benteng ini rancangannya telah dilukis oleh Johannes Listing (1656). Benteng (fort) Vijfhoek berada di arah barat Batavia yang lokasinya kini di sekitar jalan Pangeran Tubagus Angke. Benteng ini pernah dilukis oleh Johannes Rach (1772-1775).
Pangeran Tubagus Angke adalah seorang pangeran dari Banten yang bekerjasama dengan VOC/Belanda (dalam perang di Tangerang pada tahun 1682). Pangeran Bagoes dari Banten ini ditempatkan tidak jauh dari benteng (fort) Angke (diantara fort Vijfhoek dan fort Angke). Area perkampongan pangeran ini kemudian dikenal sebagai kampong Bagoes. Jalan yang kini dikenal sebagai jalan Pangeran Tubagus Angke merujuk pada nama pangeran dari Banteng (Bagoes) yang bermukim di dekat fort Angke (Angke bukan nama orang tetapi nama sungai dan nama benteng).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar