Sejarah Tangerang (35): Sejarah Cigudeg Sejak 1713, Antara Ciampea dan Jasinga; Kandidat Ibu Kota Kabupaten Bogor Barat
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang pada blog ini Klik Disini
Cigudeg punya sejarah? Tentu, dong. Sejarah Cigudeg bahkan hampir seumur sejarah Bogor (Buitenzorg). Cigudeg paling nir telah diakses menurut benteng (fort) Tangerang di era VOC/Belanda. Ini bermula saat militer VOC/Belanda memperluas kekuatan benteng Tjiampea dengan membentuk benteng (fort) baru tahun 1713 pada Panjawoengan (sekarang desa Kalong, kecamatan Leuwisadeng, kabupaten Bogor). Setelah benteng Panjawoengan dibangun menyusul benteng Djasinga. Wilayah Cigudeg ini kini berada dalam jalur ekonomi antara Ciampea & Jasinga.
![]() |
| Susukan, Banyuwangi, Cigudeg dan perkebunan teh (Peta 1906) |
Lantas seperti apa sejarah Cigudeg? Itu pertanyaan utamanya. Paling tidak hingga ini hari masih ada tersisa perkebunan teh Cirangsad di kecamatan Cigudeg (desa Banyuresmi dan desa Banyuwangi). Di desa Banyuwangi inilah kesadaran saya lahir sebagai kandidat peneliti. Kini, Cigudeg menjadi kandidat ibu kota kabupaten (Bogor Barat). Untuk mengembalikan kenangan yang tidak terlupakan di Cigudeg, mari kita telusuri Sejarah Cigudeg berdasar sumber-sumber tempo doeloe.
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Perkebunan Teh Cirangsad
Satu situs penting yang masih dapat dilihat di kecamatan Cigudeg hingga masa ini adalah kebun teh di Cirangsad (Teeetablissement). Perkebunan teh ini berada di desa Banyuwangi dan desa Banyuresmi. Lokasi kebun teh ini berjarak sembilan kilometer dari jalan raya di kaki gunung Tela. Perkebunan teh ini sudah terpetakan pada tahun 1904 (lihat Peta 1906). Dengan kata lain perkebunan teh Tjirangsad kini sudah melampaui satu abad.
Seperti tampak pada Peta 1906 dua pemukiman terbesar di sekitar perkebunan teh adalah kampung (dusun) Soesoekan dan Paboearan. Gambaran ini juga tidak berubah hingga 83 tahun kemudian pada tahun 1989 ketika saya mengunjunginya bahwa dua dusun (kampong) ini juga tetap yang terbesar. Kantor kepala desa Banyuwangi berada di dusun Susukan. Di sekitar dusun Susukan ini di lereng-lerang bukit banyak penduduk yang mengusahakan terubuk, suatu produksi sampingan yang mempengatuhi pendapatan dan tabungan masyarakat.
![]() |
| Kampong Soesoekan (Now) |
Dalam peta satelit masa kini juga masih terlihat keberadaan perkebunan teh Cirangsad di desa Banyuwangi, kecamatan Cigudeg. Perkebunan ini setelah era pengakuan kedaulatan Indonesia diusahakan oleh negara (kini PT Perkebunan Nusantara VIII).
![]() |
| Peta land di Afdeeling Buitenzorg (1867) |
Kecamatan Cigudeg, Tempo Soeloe Disebut Land Bolang
Pada awal pengembangan perkebunan di hulu sungai Tjisadane nama Tjigoedeg belumlah dikenal. Yang dikenal adalah nama-nama tanah partikelir atau land (lihat peta land). Nama-nama land yang ada di hulu sungai Tjisadane adalah land Tjiampea, land Tjiboengboelang, land Sading atau Panjawoengan, land Sading Djamboe, land Tjoeroek Bitoeng, land Bolang dan land Janlappa. Land Sading atau Panjawoengan dimekarkan menjadi land Sading atau Panjawoengan, land Sading Djamboe dan land Sading Oost; Land Sading Oost kemudian dikenal sebagai Leuwiliang. Land Sading atau Panjawoengan digabung dengan land Sading Oost menjadi land Panjawoengan atau Leuwiliang. Sementara itu land Tjoeroek Bitong kemudian dikenal sebagai Nanggoeng.
![]() |
| Bataviaasch handelsblad, 27-09-1879 |
Sebelumnya land Sading Djamboe, land Tjoeroek Bitoeng atau Nanggoeng, land Bolang dan land Janlappa disatukan dalam satu distrik yang disebut district Djasinga. Berdasarkan beslit pemerintah tanggal 24 September 1879 No 8 bahwa land Sading Djamboe dan land Tjoeroek Bitoeng atau Nanggoeng dipisahkan dari district Djasinga dan kemudian dimasukkan ke district Leuwiliang (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-09-1879). Untuk sekadar catatan: pada awal pembentukan pemerintahan, land Sading Djamboe masuk district Tangerang bersama dengan land Roempin, tetapi kemudian dipisahkan dan dimasukkan ke district Djasinga (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-03-1870).
Pada permulaan dibentuknya pemerintahan (Hindia Belanda) di Afdeeling Buitenzorg, Residentie Batavia yang dipimpin oleh seorang asisten residen yang berkedudukan di Buitenzorg pembagian wilayah terdiri dari lima distrik: Buitenzorg; Tjibinong, Parong, Tjibaroesa dan Djasinga (lihat Bataviasche courant, 04-10-1826). Para pemilik land di distrik Parong dan distrik Djasinga mendirikan pasar. Paling tidak pada tahun 1829 telah terbentuk pasar Tjiampea, pasar Sading atau Leuwiliang dan pasar Bolang (lihat Javasche courant, 15-12-1829). Pada tahun 1936 jalan dari Buitenzorg (Bogor) ke Banten melalui Tjiampea dan Djasinga telah ditingkatkan menjadi kelas dua (lihat Javasche courant, 30-01-1836). Dengan adanya jalan ini telah memperlancar arus orang dan barang (perdagangan). Lalu setelah beberapa dasawarsa sebagian wilayah district Parong dan sebagian wilayah district Djasinga dipisahkan dan kemudian disatukan dengan membentuk distrik yang baru yakni: Distrivt Leuwiliang. Sejak 1879 distrik Leuwiliang terdiri dari, antara lain land: Tjiampea, Tjiboengboelan, Sading Djamboe dan Tjoeroek Bitoeng.
Nama Leuwiliang adalah nama untuk menggantikan nama Sading. Pada era VOC nama Sading untuk menggantikan nama Panjawoengan. Oleh karena itu suatu area tanah partikelir disebut land Sading atau land Panjawoengan.
Land yang sudah terbentuk sebelumnya adalah land Tjiampea. Dalam perjalanan waktu land Tjiampea dimekarkan menjadi land Tjiampea dan land Tjiboengboelang. Lalu kemudian dibentuk land baru di Sindang Barang atau Dramaga, Tiga land ini menjadi satu cluster pembangunan pertanian di wilayah pertemuan sungai Tjianten dengan sungai Tjisadane. Setelah terbentuk land Sading atau Panjawoengan dibentuk land baru yakni land Bolang sebagai suatu cluster baru di daerah aliran sungai Tjikaniki. Land-land baru di hulu sungai Tangerang/sungai Tjisadane ini menjadi terhubung satu sama lain.
![]() |
| Titik singgung terdekat sungai Tjikaniki dan sungai Tjidoerian |
Dalam perkembangan lebih lanjut land Sading dimekarkan menjadi land Sading (Panjawoengan), land Sading Oost, land Sading Djamboe dan land Toeroek Bitoeng. Lalu kemudian land Sading Oost disebut (land) Leuwiliang dan land Tjoeroek Bitoeng menjadi land Nanggoeng. Land Bolang dan land Janlappa tetap eksis. Land Sading atau Panjawoengan kemudian hanya disebut land Sading. Nama Panjawoengan yang telah muncul sejak awal pada era VOC tamat. Land Bolang berpusat (landhuis) di kampong Tjigoedeg dan land Janlappa berpusat (landhuis) di kampong Djasinga.
![]() |
| Landhuis Bolang lama di Tjigoedeg (1910) dan Peta 1906 |
Seperti telah disebutkan di atas dalam era pemerintahan Hindia Belanda nama Djasinga ditabalkan menjadi nama Distrik dan kemudian nama Leuwiliang ditabalkan menjadi nama distrik yang baru. Pada tahun 1908 dari lima distrik yang ada (Buitenzorg, Tjibinong, Paroeng, Tjibaroesa, dan Leuwiliang) dibentuk onderdistrik yang dikepalai oleh asisten demang.
![]() |
| Peta 1901 |
Pada tahun 1914 di Residentie Batavia dibentuk pengadilan (landgerecht). Untuk wilayah afdeeling Buitenzorg ditempatkan di Buitenzorg, Tjibinong, Tjibaroesa, Leuwiliang dan Djasinga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-06-1914). Ini menunjukkan bahwa Leuwiliang telah menjadi tempat yang paling penting di wilayah west Buitenzorg. Tidak hanya demang dan pengadilan tetapi di Leuwiliang juga tempat kedudukan controleur. Pengadialan sendiri di wilayah Afdeeling Buitenzorg kali pertama dibentuk pada tahun 1848 yang lokasinya (hanya) berada di Buitenzorg (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 27-05-1848).
Kelak pada pemerintah Republik Indonesia, itulah mengapa awalnya hanya ada dua kecamatan di wilayah Bogor Barat, yakni: Leuwiliang dan Djasinga (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 15-05-1951). Lalu dalam perkembangan selanjutnya nanti kecamatan Leuwiliang yang tersisa dimekarkan kembali menjadi kecamatan Leuwiliang dan kecamatan Leuwisadeng. Seperti disebutkan sebelumnya nama awal Leuwisading adalah (land) Panjawoengan. Nama-nama land yang lain dijadikan sebagai nama kecamatan, seperti: kecamatan Ciampea, kecamatan Cibungbulang, kecamatan Nanggung (land Tjoeroek Bitoeng), kecamatan Cigudeg (land Bolang). Nama-nama historis inilah yang kini digagas menjadi satu kesatuan wilayah yang baru dengan membentuk kabupaten baru: Kabupaten Bogor Barat. Ibu kota kabupaten Bogor Barat telah dipilih di (kacamatan) Cigudeg. Keseluruhan kabupaten Bogor Barat akan meliputi 14 kecamatan yang sekarang: Cigudeg, Nanggung, Leuwiliang, Leuwisadeng, Pamijahan, Cibungbulang, Ciampea, Tenjolaya, Tenjo, Rumpin, Jasinga, Parungpanjang, Sukajaya dan Dramaga.
Benteng (fort) Panjawoengan
Perkebunan teh Tjirangsad adalah salah satu pangkal sejarah di Cigudeg yang tersisa dari warisan VOC/Belanda di wilayah hulu sungai Tangerang. Tentu saja itu semua bermula dari awal. Suatu waktu di masa lampau yang dimulai dari Tangerang (bukan dari sungai Tjiliwong, Bogor). Setelah berkembang di seputar benteng Tangerang dan selesainya kanal Mookervaart (kanal pelayaran sungai dari benteng Tangerang ke Batavia), VOC mulai melakukan ekspedisi-ekspedisi ke hulu sungai Tangerang di Serpong (membangun benteng Sampoera) lalu diperluas ke pertemuan sungai Tjianten dengan sungai Tjisadane di Tjiampea (membangun benteng Tjiampea di pertemuan sungai Tjiaruteun dengan sungai Tjisadane). Pada tahun 1713 benteng baru dibangun di Panjawoengan (di seberang sisi selatan sungai Tjikaniki). Sejak inilah awal sejarah wilayah Cigudeg dimulai.
![]() |
| Benteng Panjawoengan (Peta 1906) |
Mengapa eksplorasi wilayah oleh VOC setelah Ciampea justru dikembangkan ke arah barat (bukan ke arah timur)? Pertama, untuk eksplorasi ke arah timur dianggap telah menjadi bagian dari eksplorasi wilayah hulu sungai Tjiliwong (sisi timur dari Meester Cornelis ke Tandjong, Tjibinong dan Tjiloear; sisi barat dari Meester Cornelis ke Depok, Pondok Terong dan Bodjong Gede). Kedua, untuk eksplorasi ke arah barat (melalui sungai Tjianten/sungai Tjikaniki) diduga kuat karena alasan untuk mengeksplorasi wilayah mengikuti tanda-tanda jaman kuno (yang diduga menjadi salah satu pusat kerajaan Taroemanegara).
![]() |
| Arah pengembangan wilayah dari Tangerang ke Djasinga |
Setelah suatu ekspedisi dilakukan dan VOC kemudian membangun benteng, itu merupakan indikasi bahwa wilayah sekitar ingin dipertahankan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi (perdagangan) yang baru. Membangun benteng adalah suatu investasi dan membayar militer dan tentara untuk menjaga (mempertahankan) adalah biaya-biaya tambahan yang timbul. Untuk menutupi itu semua ke depan para ahli melakukan ekspektasi bahwa wilayah itu ke depan akan menguntungkan secara ekonomi. Petunjuk wilayah itu adalah wilayah potensial sudah diduga oleh para ahli bahwa wilayah sekitar sungai Tjianten di masa lampau sebagai bagian dari pusat kerajaan (Taroemanegara). Di wilayah itu ditemukan titik-titik penambangan emas.
![]() |
| Peta 1724 |
Landhuis Bolang Pindah dari Kampong Bolang ke Kampong Tjigoedeg
Land Bolang berpusat di (kampong) Tjigoedeg, karena di kampong ini tempat lokasi rumah (landhuis) dari pemilik (landheer) land Bolang. Nama land Bolang paling tidak sudah disebut pada tahun 1817 (lihat Bataviasche courant, 19-07-1817). Disebutkan JT Reijnst akan menjual lahan Djasinga en Bolang. Dalam hal ini, pemilik pertama land Bolang adalah JT Reijnst. Pembeli land Bolang dan Djasinga adalah Leps. Komoditi utama dari land Djasinga dan Bolang adalah padi.
Pada tahun 1819 Leps menjual land Djasinga, Bolang en Tjoeroek Bitoeng (lihat Bataviasche courant, 31-07-1819). Informasi ini mengindikasikan bahwa Leps sebelumnya telah membeli land Tjoeroek Bitoeng dan menyatukannya dengan land Djasinga en Bolang.
![]() |
| Landhuis land Djasinga dan kantor demang (Peta 1906) |
Wilayah paling ujung dari tanah-tanah partikelir ini mulai dikembangkan lebih baik pada tahun 1826 sehubungan dengan pembentukan district Djasinga. Ibu kota district Djasinga tidak berada di land Bolang tetapi berada di land (kampong) Djasinga. Meski demikian, satu-satunya pasar di distrik Djasinga hanya terdapat di Bolang. Pasar ini buka pada hari Sabtu (lihat Javasche courant, 24-11-1829). Pasar terdekat dari pasar Bolang berada di land Sading Oost atau Leuwiliang dan di (land) Tjikadoe (kini Tenjo).
![]() |
| Landhuis land Bolang yang lama dan jalan raya (Peta 1906) |
Pada tahun 1837 diketahui dari iklan berita keluarga di surat kabar bahwa pemilik land Bolang menyewakan kebun gula aren ke publik (lihat Javasche courant, 02-12-1837). Pemilik land Bolang, Jan Mulder dikabarkan meninggal dunia tiba-tiba pada tanggal 21 di perkebunan Koeripan. JJ van Braam dan E Moormann en Co memberitahukannya ke publik (lihat Javasche courant, 06-05-1843). Land Bolang milik alm J Mulder akan dijual melalui lelang di Batavia pada bulan September (lihat Javasche courant, 26-07-1843). Siapa yang membelinya tidak diketahui secara jelas tetapi telah diiklankan land Bolang yang menghasilkan padi, gula aren dan lain akan disewakan selama tiga tahun ke depan (lihat Javasche courant, 04-11-1843).
![]() |
| Landhuis Nanggoeng dan batubara di Parakan Tiga (Peta 1906) |
Dalam perkembangannya, sesuai perubahan spasial, pemilik land Bolang memindahkan landhuis ke kampong Tjigoedeg di dekat Sitoe Tjigoedeg (di sisi jalan utama antara Buitenzorg-Djasinga). Pemilik land Bolang tidak membangun pasar di Tjigoedeg. Pasar Bolang lambat laun ditutup dan kemudian di land Bolang dibangun pasar yang baru yang disebut Pasar Poeroe (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 29-11-1861). Lokasi pasar ini berada di dekat jembatan di jalan utama Buitenzorg-Djasinga (di Boenar). Sejauh ini di land Djasinga sendiri tidak ada pasar.
![]() |
| Lanhuis land Bolang baru di kampong Tjigoedeg (Peta 1906) |
Pada tahun 1875 pemilik land Bolang diketahui Mr. WA Baron Baud, Tidemann dan van Kerchem (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-06-1875), Kongsi pemilik ini menunjuk J Micola sebagai Administrateur land Bolang en Janlappa. Dari informasi ini ada indikasi land Bolang dan land Janlappa sebagai satu kesatuan kepemilikan. Beberapa bulan kemudian diketahui bahwa di land Bolang akan mulai dilakukan budidaya teh (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-10-1875).
Beberapa tahun sebelumnya diketahui van Motman telah menjual land kopi Bolang (lihat Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 13-04-1860). Disebutkan van Motman menjual land Bolang dalam rangka untuk membeli land Boeboet (Kedong Badak). Sebagaimana diketahui kelaurga van Motman adalah pemilik land Dramaga.
Namun beberapa tahun kemudian land Janlappa diketahui telah dijual kepada seorang pengusaha Cina Ong Kioe Poean. Dalam perkembangannya land Janlappa akan disewakan kepada publik melalui notaris di Batavia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-10-1879). Tidak diketahui secara jelas apakah land Bolang masing dimiliki oleh Mr. Baud cs.
Nilai NJOP (verponding) land Bolang pada tahun 1886 sebesar f500.000 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-02-1886). Besarnya pajak yang disetor ke pemerintah dihitung sebesar nilai persentase tertentu. Nilai verponding land Tjoerek Bitoeng atau Nanggoeng sebesar f1.047.000. Penilaian ini dilakukan oleh suatu komite,
Tiga land yang diusahakan oleh keluarga van Motman yakni land Tjiampea, Tjiboengboelan dan land Panjawoeangan atau Sading dalam periode 1874-1886 masing-masing sebesar f1.423,000, f273.000 dan f467.000 yang keseluruhan berjumlah f2.163,000 dengan pajak disetor per tahun ke pemerintah sebesar tertentu . Nilai verponding ketiga land ini telah meningkat di dalam 70 tahun terakhir (lihat tabel). Pada tahun 1818 nilai verponding land Tjiampea sebesar 550.000; land Tjiboengboelang sebsar f52.100 dan land Panjawoengan atau Sading sebesar f47.400. Keluarga van Motman menyewa tiga land tersebut sejak 1882 selama 15 tahun, Keluarga van Motman adalah pemilik land Dramaga. GWC van Motman sebagai perintis di land Dramaga meninggal pada tahun 1821. Sementara itu diketahui bahwa land Tjikoleang dan land Sadeng Djamboe tetap dimiliki oleh PC van Motman (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1889).
Potensi yang tinggi dari tanah-tanah partikelir antara ibukota district Leuwiliang dan ibukota district Djasinga tidak selalu sejalan dengan kondisi moda transportasi yang ada. Pada dekade-dekade terakhir ini jalur komunikasi melalui jalan raya cukup memprihatinkan. Dewan di Buitenzorg kurang mempedulikan keluhan-keluhan masyarakat tentang kondisi jalan. Jalan antara Panjawoengan dengan perbatasan land Bolang (Pasirangin) sulit dilewati baik oleh pedati maupun kereta. Jalannya sangat berlumpur meski tidak terlalu sulit untuk mendapatkan bahan kerikil. Masyarakat sekitar telah mengeluh ke dewan (Raad) tetapi tidak digubris (lihat Bataviaasch handelsblad, 09-09-1889).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 23-11-1898 |
![]() |
| Perkebunan teh di land Tjoeroek Bitoeng (Nanggoeng), 1908 |
Setelah sekian lama wilayah barat Buitenzorg kesulitan dalam hal komunikasi dengan menggunakan moda transpostasi darat mulai muncul usulan untuk pembangunan jalur kereta api. Jalur kereta api yang diusulkan oleh dewan yakni dari Janlapa melalui Djasinga, Bolang ke Paroeng Pandjang. Sebagaimana diketahui jalur kereta api dari Batavia ke Rangkas Bitoeng sudah terealisasi melalui Tanah Abang, Palmerah, Serpong, Paroeng Panjang, Tjikadoe (kini Tenjo). Namun usulan ini pada tingkat konsesi eksploitasi kereta api ditolak (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-11-1898). Tidak dijelaskan apa alasan usulan itu ditolak. Tamat sudah harapan penduduk Bolang untuk mendapatkan moda transportasi kereta api.
![]() |
| Seorang wanita Eropa berbelanja di pasar Bolang, 1910 |
Pada tahun-tahun terakhir ini perekonomian di land Bolang dan land Djasinga seakan terisolasi hanya karena faktor buruknya kondisi moda transportasi. Tentu saja tidak hanya produk perkebunan teh yang harus menanggung biaya angkut yang lebih mahal tetapi juga produk pertanian penduduk juga terhambat pemasarannya ke kota seperti Buitenzorg dan Batavia. Sementara itu harapan untuk pembangun jalur kereta api masih sangat didambakan.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 11-02-1915 |
Untuk mengatasi persoalan transportasi yang terus berlarut-larut akhirnya pada tahun 1915 para pemilik land Bolang, Djasinga, Tjiampea dan Tjiomas mengirimkan surat ke dewan di Batavia. Mereka ini ingin mendapat perhatian dari dewan dan juga untuk mendesak pemerintah agar segera meningkatkan mutu jalan raya ke arah barat.
![]() |
| Sungai Tjidoerian di Bolang, 1913 |
Pada rapat dewan Batavia tahun 1916 disetujui pelaksanaan pembangunan koneksi telepon yang berjalan secara eksklusif pada land Bolarg dan land Djasinga untuk keuntungan dan untuk penggunaan Administrator land tersebut (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1916). Sebelumnya komunikasi yang sudah ada adalah telegraf di Djasinga.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 13-02-1917 |
![]() |
| Pemilik land Bolang, CC Stoel van Holstein van Vloten (1910) |
Land Bolang, land Nanggoeng dan land Djasinga di wilayah terjauh afdeeleing Buitenzorg, Residentie Batavai sesungguhnya tidak ada duanya. Dengan upaya perbaikan jalan yang terus dilakukan arus komunikasi dari dan ke land-land tersebut semakin lancar. Land-land ini sesungguhnya sangat eksotik dan karena itu para pelancong banyak yang mengunjunginya. Ini dapat dilihat dari kesan sekelompok wisatawan dari Batavia yang datang ke wilayah barat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 11-10-1932).
![]() |
| Gunung Tela di land Bolang, 1935 |
![]() |
| Sungai Tjidoerian di Djasinga, 1935 |
Perang Kemerdekaan dan Pengakuan Kedaulatan Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
Cigudeg, Kota Masa Depan: Kandidat Ibu Kota Kabupaten Bogor Barat
Kampong Tjigoedeg yang sudah dikenal sejak lampau 1713 (era VOC), akan segera menemukan jalan menuju masa depan (era milenial). Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1826 tidak memperhitungkan kampong Tjigoedeg (land Bolang) sebagai ibu kota distrik melainkan yang dipilih dan ditetapkan adalah kampong Djasinga (land Janlapa).
![]() |
| Lanskap Tjigoedeg diantara gunung Tela dan gunung Tenjoleat |
![]() |
| Landhuis land Bolang dipindahkan dari Toge ke Tjigoedeg |
Hanya investor Jerman yang memperhitungkan land Bolang (Tjigoedeg) pada tahun 1875 untuk dijadikan sebagai perkebunan teh di kampong Tjirangsad (8 Km dari kampong Tjigoedeg). Atas dasar inilah kemudian ibu kota (landhuis) land Bolang dipindahkan dari kampong Bolang (kini desa Mekarjaya) ke kampong Tjigoedeg. Kini, kota Tjigoedeg akan menggantikan peran historis kota Bogor.
Kota Cigudeg jauh lebih tinggi dari Kota Bogor. Ketinggian Kota Bogor sekitar 300 meter di atas permukaan laut (dpl). Kota Bogor tidak sejuk lagi. Tempoe doeloe Bogor dipilih para petinggi VOC sebagai buitenzorg karena hawanya sejuk. Tapi kini Kota Bogor hawanya terkesan panas (vegetasi berkurang, tanah permukaan yang tertutup dan polusi yang semakin tinggi menyebabkan kota Bogor semakin gerah.
![]() |
| Ketinggian area di Bogor Barat (M dpl) |
Kota Cigudeg berada di ketinggian sekitar 400 M dpl. Wilayah Tjigoedeg yang akan menjadi ibu kota kabupaten Bogor Barat merupakan wilayah tertinggi di jalur ekonomi Buitenzorg-Djasingan. Tidak hanya hawanya yang sejuk, kota Cigudeg memiliki lanskap yang aduhai. Apakah ini akan menjadi peluang bagi kota Cigudeg untuk menjadi destinasi wisata dan ruang untuk weekend?
![]() |
| Cigudeg, kandidat ibu kota kabupaten Bogor Barat |
Wilayah Bogor Barat sejatinya lebih kaya situs-situs destinasi wisata dibangdingkan daerah Puncak (wilayah Bogor timur). Wilayah sekitar Cigudeg sangat di Bogor Bnarat berlimpah situs-situs eksotik bahkan terdapat situs-situs masa lampau tersebar dimana-mana, tidak hanya situs era Taroemanegara, juga situs-situs kuno seperti gua. Tentu saja situs kuno peninggalan era VOC (benteng Tjiampea dan benteng Panjawoengan serta benteng Djasinga) dan peninggal era Hindia Belanda di Nanggung dan tentu saja perkebunan tua di Cirangsad.
Saya bisa membayangka suatu ketika di masa nanti Tangerang (Selatan), Cigudeg dan Pelabuhan Ratu, area Ciletuh dan Sukabumi terhubung dengan jalur kereta api. Tidak terpikirkan memang tetapi masuk akal dengan terbentuknya jalur lingkar yang menghubungkan Serpong (Kota Tangerang), Cigudek (ibu kota Bogor Barat) dan Pelabuhan Ratu (ibu kota Soekabumi). Pada era Hindia Belanda JP Motman (pengusaha pertanian di Bolang dan Tjoeroek Bitoeng) pernah menggagas jalur kereta api dari Paroeng Pandjang/Serpong ke Djasinga via Tjigoedek dan juga Eekhout (pengusaha pertanian di Djampang Keolon) menggagas jalur kereta api dari Sagaranten/Tjiletoeh ke Leuwiliang via Parakan Salak. Kedua jalur ini layak tetapi ditolak oleh perusahaan kereta Hindia Belanda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com































Tidak ada komentar:
Posting Komentar