Sejarah Kota Surabaya (25): Sech Albar--Ayah Ahmad Albar--Pionir Musik Gambus; Ucok AKA Harahap, Pionir Musik Rock
*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya pada blog ini Klik Disin
Kota Surabaya adalah kota musik, kota terawal dalam musik Indonesia. Uniknya Kota Surabaya adalah kota terawal pada musik gambus Indonesia. Pionirnya merupakan Sech Albar. Lantas apakah mungkin anak Sech Albar menjadi pemusik gambus mempunyai anak seseorang pemusik rock? Ahmad Albar adalah anak Sech Albar seorang pemusik rock.
![]() |
| DUO KRIBO: Ahmad Albar dan Ucok AKA Harahap |
Siapa sesungguhnya Sech Albar? Ke dalam pertanyaan ini juga dapat ditambahkan, siapa sesungguhnya ayah Ucok AKA Harahap? Yang jelas Sech Albar adalah pionir musik gambus Indonesia. Untuk mendapatkan gambaran siapa mereka sesungguhnya, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Marga Albar di Indonesia
Berbeda dengan marga Baswedan, Makarim dan Alatas, marga Albar di era kolonial Belanda tidak terlalu menonjol. Marga Albar terbilang jarang diberitakan pada surat kabar. Meski demikian, marga Albar sudah cukup lama terbilang eksis di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Marga Albar di Hindia Belanda paling tidak sudah terdeteksi nama Said Albar tahun 1864 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-02-1864).
Said Albar adalah seorang pedagang di Batavia. Said Albar kerap memesan tikar (rottingmatten) dari Palembang. Nama Said Albar masih eksis hingga tahun 1867 dimana Said Albar memesan damar dari Palembang. Sejak tahun 1867 tidak pernah terdeteksi lagi nama Said Albar.
Pada tahun 1896 terdeteksi kembali marga Albar. Tidak lagi di Batavia, tetapi di Soerabaja (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 25-02-1896). Disebutkan seorang Arab, Said Abdulrachman bin Hoesin Albar membeli tanah dari pemerintah seluas 91 M2 di kampung Ketapang, wilayah pemukiman Arab di ibukota Soerabaja dengan pembayaran sebesar f365. Besar dugaan Said Abdulrachman bin Hoesin Albar adalah anak dari Said Albar yang tempo doeloe terdeteksi tinggal di Batavia.
Dalam hal ini Said adalah nama kecil. Sementara Hoesin adalah nama dewasa. Sedangkan Albar adalah nama marga (family name). Jadi Said (Hoesin) Albar tempo doeloe yang tinggal di Batavia adalah ayah Said Abdulrachman.
Pada tahun 1907 diketahui ada yang bernama Said Mohamad Albar yang juga tinggal di Soerabaja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 02-08-1907). Disebutkan Said Mohamad Albar dengan kapal ss van den Bosch berangkat dari Soerabaja menuju Molucco. Beberapa bulan kemudian diberitakan nama Said Oemar bin Hoesin Albar di Soerabaja (lihat (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-10-1907). Disebutkan Said Oemar bin Hoesin Albar dengan kapal ss Eerens berangkat dari Soerabaja dan turun di (pulau) Bawean.
![]() |
| Silsilah merga Albar |
Pada tahun 1912 (Said) Abdulrachman (bin Hoesin) Albar diberitakan melakukan transaksi dagang di Ternate dan Tidore (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-09-1912). Boleh jadi Abdulrachman Albar menyusul Oemar Albar melakukan kegiatan perdagangan ke Maluku.
Pada tahun 1917 diketahui Said Salim Albar dan Said Oemar Albar tiba dari Singapoera di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-01-1917). Disebutkan kapal ss van Neck tiba di Batavia dari Singapoera dengan penumpang (diantaranya) Said Salim Albar dan Said Oemar Albar. Dalam hal ini Said Salim Albar diduga saudara dari Said Oemar Albar (anak dari Said Albar di Batavia). Said Salim Albar diduga tinggal di Batavia, sedangkan Said Oemar Albar (masih) di Soerabaja. Besar dugaan jalur perdagangan (keluarga marga) Albar: Batavia-Soerabaja, Soerabaja-Maluku dan Batavia-Singapoera.
Populasi dan Sebaran Marga Albar
Setelah lebih dari setengah abad diketahui keberadaan marga Albar di Hindia Belanda (baca: Indonesia), dari satu orang, jumlahnya semakin banyak. Paling tidak anak-anak Said Albar sudah terdeteksi empat orang. Mereka ini ada yang di Batavia dan Soerabaja. Lalu pada generasi ketiga selain sudah menyebar juga muncul good news dan juga bad news.
Pada tahun 1921, seorang yang bermarga Albar di Soerabaja memiliki perkara perdata dengan keluarga Arab lain—yang melibatkan seorang Prancis--yang kini dalam tahanan karena sumpah palsu (lihat De Preanger-bode, 24-05-1921). Masih pada tahun 1921 seorang yang bermarga Albar diketahui sebagai salah satu siswa dari sekolah guru (kweekschool) dan dinyatakan lulus di Fort de Kock (lihat De Preanger-bode, 16-11-1921). Guru Albar ini pada tahun berikutnya tahun 1922 diketahui melanjutkan studi di sekolah guru atas (HKS) di Bandoeng (liha De Preanger-bode, 07-10-1922).
Pada tahun 1922 di Soerabaja kembali marga Albar terkait dalam masalah. Masalah yang diperkarakan adalah dugaan pembunuhan terhadap seorang kaya Arab lainnya bernama Sajid Achmad bin Oemar bin Aloewi Baagil (lihat De Preanger-bode, 24-10-1922). Disebutkan perkara ini merujuk pada perselisihan lama antara keluarga Baagil dan keluarga Albar yang mana satu orang keluarga Albar masih di penjara. Pembunuhan dengan serangan dengan menggunakan pisau terjadi pada tanggal 2 Agustus pukul 7 di Kampementstraat. Baagil meninggal karena cedera beberapa jam setelah serangan tersebut. Dalam kasus ini tiga orang didakwa yakni Sajid Taka bin Abdullah Albar, 22 tahun, pedagang kuda; Sajid Sadik bin Abdullah Albar, 30 tahun, pemilik dokar, Sajid Aloewi bin Abdullah Albar, 21 tahun, pemilik dokar. Sajid Taka bin Abdullah Albar mengaku hanya melakukan sendiri. Pengadilan (Landraad) kemudian menjatuhkan hukuman kepada ketiganya hukuman 15 tahun penjara. Dalam soal sumpah palsu itu sudah empat Albar di penjara (lihat De Indische courant, 04-11-1922). Dalam perkembannya hanya dua orang yang terbukti bersalah (lihat De Indische courant, 12-08-1925). Dua orang ini mendapat keringanan hukuman, karena pada saat pembunuhan, kroban memiliki senjata revolver yang tidak memiliki izin
Kota Soerabaja adalah salah satu kota besar dimana terdapat populasi orang Arab yang jumlahnya sangat banya. Marga-marga Arab di Soerabaja juga sangat banyak termasuk marga Albar, marga Baagil. Marga Makarim dan marga Baswedan. Dalam hal ini, marga Albar di Soerabaja sulit diketahui seberapa banyak.
Pada tahun 1927 Ali Albar diketahui melakukan pelayaran (lihat De Sumatra post, 18-05-1927). Disebutkan pada tanggal 17 kapal ss Melchior Treub berangkat dari Singapoera yang mana di dalam manifes kapal terdapat nama Ali Albar yang berangkat (naik kapal) dari Batavia. Beberapa nama lain (non Belanda, Tionghoa dan Jepang) yang terdapat dalam manifes adalah Dr. Zakir dari Soerabaja sedangkan yang berangkat dari Batavia adalah Darwin Hamonangan, (FL) Tobing, (Amir) Sjarifoeddin (Harahap), Gindo Siregar, Soeleiman Siregar, Mohamad Machjoedin Loebis, Abdul Abbas (Siregar), dan (Abdul) Moerad. Nama-nama yang disebut terakhir ini sudah barang tentu akan turun di Medan. Belum tentu dengan Ali Albar.
Pada tahun 1931 diberitakan lagi nama marga Albar. Uniknya Aloewi Albar melerai dua Baagil yang tengah berkelahi (lihat De Indische courant, 30-12-1931). Disebutkan di pompa bensin Socony di Marmojo, dua orang Arab terkenal, H bin A Baagil dari Malang dan M bin A Baagil, yang tinggal di Kampemenstraat, mulai bekerja sama. Ada perselisihan antara keduanya. M bin A Baagil mengambil pisau dan menikam hingga ke paha. Dia membela diri dan balik menyerang dengan benda lainnya di kepala dan wajah, melukainya dan kehilangan empat gigi. Aloewi Albar, yang ingin memisahkan dua yang berkelahi tersebut dan ingin mengambil pisau dari mereka, terluka di kedua tangan. Ketiganya kemudian dibawa ke rumah sakit kota CBZ dan setelah diobati bisa dibawa pulang.
Generasi marga Albar di Soerabaja hingga tahun 1930an sudah memasuki generasi ketiga/keempat (dari anak-anak Said Albar yang tempo doeloe di Batavia). Seorang dari marga Albar di Soerabaja menulis namanya sebagai Said Mohamad bin Abdullah bin Oemar Albar. Dalam hal ini Oemar Albar dan saudara-saudara merupakan generasi Albar pertama di Soerabaja. Dalam hal ini Abdullah adalah generasi kedua dan Mohamad adalah generasi ketiga.
Keturunan marga Albar sejauh ini tidak hanya pedagang, tetapi juga sudah ada yang menjadi guru dan tentu saja profesi lainnya seperti inisinyur Ir. Abdullah Albar (lihat De Indische courant, 11-03-1933). Satu pertanyaan yang masih perlu ditelusuri adalah siapa Ali Albar yang pada tahun 1927 melakukan pelayaran dengan kapl ss Melchior Treub. Tentu saja di antara Albar ada juga yang tidak sukses dalam bisnis (lihat De Indische courant, 30-08-1933). Disebutkan di pengadilan Soerabaja diputuskan nama-nama yang dinyatakan pailit diantaranya Said Moehamad bin Abdullah bin Sadik Albar.
Pada tahun 1932 kembali terjadi perseteruan antara anggota keluarga Baagil dengan anggota keluarga Albar (lihat Soerabaijasch handelsblad, 27-09-1932). Disebutkan Sajid Aloewi bin Abdullah Albar dan Sajid Mohamad bin Oemar bin Aloewi Baagil terjadi perseteruan sejak 28 Desember 1931. Disebutkan Albar dan kawan-kawannya yang ingin menjenguk keluarga dicegat Baagil di Malang. Timbul perselisihan. Lalu berlanjut di Soerabaja yang mana Albar yang mencegat Baagil dan mengancam akan membunuh Baagil. Di pengadilan, pertengkaran ini terungkap mengatakan ‘Aku akan mengirimmu ke saudaramu’. Di dalam berita ini disebutkan Aloewi ingin membunuhnya (Baagil), seperti yang dilakukan terhadap saudaranya (Achmad). Yang dimaksud kejadian tersebut adalah peristiwa 10 tahun lalu yang mana Aloewi telah dijatuhi hukuman 15 tahun pada tahun 1922 karena pembunuhan Sajid Achmad bin Oemar bin Aloewi Baagil, tetapi hukuman ini dikurangi menjadi 9 tahun dengan remisi. Dalam hal ini Aloewi adalah Sajid Aloewi bin Abdullah Albar yang melakukan pembunuhan 10 tahun lalu. Tentu saja pada tahun 1932 ini Aloewi belum lama keluar dari penjara. Dalam pengadilan ini Aloewi Albar dijatuhi hukuman enam tahun penjara namun karena ada hal yang meringankan hanya dihukum 1 tahun dan 6 bulan penjara (lihat Soerabaijasch handelsblad, 01-10-1932).
Pada tahun 1934 kembali muncul berita good news dari marga Albar (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-07-1934). Disebutkan lulus ujian Indisch Hoofdacre di Bandoeng diantaranya Albar. Mereka yang dinyatakan lulus tersebut adalah guru-guru yang akan menerima sertifikat kepala sekolah (hoofdacte). Albar ini diduga adalah Albar yang dulu bersekolah di sekolah guru (kweekschool) Fort dr Kock dan melanjutkan studi ke Hoogere Kweekschool di Bandoeng 1922. Yang lulus angkatan pertama, seangkatan Albar diantaranya adalah Haroen Loebis gelar Soetan Indra Goeroe. DJ Hasiboean, R Pohan, Lie Tjik Ho dan JF Latsdrager.
Pada tahun 1934 di Batavia dibentuk komite ujian untuk hoofdacte. Ini dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan kepala sekolah untuk HIS dan MULO yang selama ini harus lulusan di fakultas yang ada di Belanda. Dengan dibentuknya komite ujian ini setiap guru senior tidak perlu lagi ke Belanda tetapi cukup dilakukan di Bandoeng. Komite ini diketuai oleh Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, seorang pribumi pertama yang memiliki gelar doktor (Ph.D) di bidang pendidikan. Soetan Goenoeng Moelia sepulang studi di Belanda tahun 1918 ditempatkan sebagai kepala sekolah HIS di Kotanopan (Zuid Tapanoeli). Pribumi pertama pemilik sertifikat sarjana pendidikan lulusan Belanda adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1911 dan kembali ke tanah air pada tahun 1913. Soetan Casajangan adalah penggagas dan presiden pertama Indisch Vereeniging di Belanda tahun 1908 (kemudian oleh Mohamad Hatta dkk tahun 1924 Indisch Vereeniging diubah menjadi Perhimpoenan Indonesia). Jabatan terakhir Soetan Casajangan kelahiran Padang Sidempoean sebelum meninggal 1927 adalah kepala sekolah Normaal School di Meester Cornelis (yang kemudian digantikan oleh Soetan Goenoeng Moelia).
Beberapa tahun kemudian Soetan Goenoeng Moelia diangkat menjadi anggota Volksraad di Batavia yang juga merangkap sebagai wakil kepala sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis. Pada tahun 1929 Mr. Soetan Goenoeng Moelia menjadi salah satu anggota komite HIS di Batavia. Pada tahun 1930 Soetan Goenoeng Moelia melanjutkan studi diktoral ke Belanda dan lulus dan mendapat gelar doktor (Ph.D) dalam bidang pendidikan pada tahun 1933. Kelak, Mr. Soetan Goenoeng Meolia, Ph.D, kelahiran Padang Sidempoean diangkat menjadi Menteri Pendididikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara). Soetan Goenoeng Moelia adalah saudara sepupu Perdana Menteri Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap (yang pernah satu kapal dengan Ali Albar pada tahun 1927). Soewardi Soerjadiningrat alias Ki Hadjar Dewantara berhasil mendapat sertifikat guru di Belanda pada tahun 1918 dan tahun 1919 kembali ke tanah air.
Pada tahun 1935 tercatat seorang Albar yang aktif dalam sepakbola di Soerabaja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 22-07-1935). Disebutkan SMA Albar anggota klub sepakbola di Soerabaja, Annasher.
Klub ini berada di bawah organisasi Annasher yang mana organisasi ini sudah sejak lama eksis. Pada tahun 1928 Annasher diketuai oleh Sech Faredj Martak. Klub Annasher berkompetisi di SVB. Pada tahun 1934 diadakan kongres orang-orang Arab di Semarang. Pasca dilakukannya fusi antara partai PBI yang berpusat d Soerabaja dan Boedi Oetomo yang berpusat di Jogjakarta menjadi partai baru Partai Indonesia Raja (Parindra) pada tahun 1935, organisasi-organisasi orang Arab di Hindia Belanda mulai disatukan dengan pembentukan organisasi Persatoean Arab-Indonesia (PAI) yang dimotori oleh AR Baswedan pada tahun 1936 (hasil kongres yang diadakan di Pekalongan). Pada tahun 1937 PAI menjadi partai (hasil kongres di Soerabaja).
Sech Albar: Ayah Seorang Rocker
Pada tahun 1935 untuk kali pertama diberitakan program/acara musik non Eropa di radio (lihat De Indische courant, 25-07-1935). Dua jenis musik pertama yang disiarkan lewat radio adalah musik krontjong dan musik gamboes. Disebutkan radio Soerabaja II 125 M menyiarkan Gamboes Orkest yang dipimpin oleh Sech Albar. Siaran ini tidak dalam bentuk rekaman tetapi dalam bentuk live dari studio di Soerabaja.
![]() |
| Indische courant, 25-07-1935 |
![]() |
| Het nieuws van den dag voor NI, 26-08-1915 |
Bagaimana musik gambus bermula dan berkembang sulit diketahui. Sudah barang tentu introduksi musik gambus dilakukan oleh orang-orang Arab (yang terus berdatangan dari Hadramaut). Seperti disebutkan di atas sudah terdeteksi tahun 1889 di dalam pesta-pesta yang dilakukan di kalangan orang Arab Probolinggo. Musik gambus juga sudah beredar dalam bentuk piringan hitam (gram plate) pada tahun 1915. Sebaran musik gambus tidak hanya di Jawa, khususnya Jawa Timur dan Soerabaja, gaung musik gambus juga terdeteksi di Sumatra (lihat De Sumatra post, 29-02-1932). Disebutkan pada perayaan societeit Taman Persahabatan di Medan yang sangat sukses, selain menghadirkan sejumlah pembicara juga dihadirkan musik gambus. Apakah dengan alasan ini radio NIROM di Soerabaja coba memulai program musik gambus?
Siapa Sech Albar? Bagaimana awal mula Sech Albar membangun grup musiknya? Pertanyaan ini adalah pertanyaan inti dalam artikel ini. Sech Albar jelas berasal dari keluarga (marga) Albar di Soerabaja. Namun yang menjadi pertanyaan adalah Albar yang mana? Panggilan Sech dalam hal ini adalah pengganti panggilan Said sebelumnya di antara anak-anak dan keturunan Said Albar. Sech Albar adalah generasi ketiga/keempat dari marga Albar di Soerabaja. Kelak, Sech Albar ini disebut sebagai ayah dari Ahmad Albar (pemusik rock).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 03-12-1935 |
Siapa Sech Albar mulai menunjukkan titik yang lebih terang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-10-1936). Disebutkan orkest gambus terkenal di Soerabaja yang dipimpin oleh A Albar (inisial A belum begitu jelas siapa). Juga disebutkan di Soerabaja terdapat Pendowo Orkest. Nama yang disebut terakhir ini belum diketahui jenis musiknya apa dan dipimpin oleh siapa. Lantas apakah Sech Albar sama dengan A Albar atau dua orang yang berbeda?
Semakin intensnya musik-musik Timur (musik tradisi, gambus dan lainnya) mulai mendapat perhatian dari pengamat musik yang mengkritisi program terpusat musik-musik Timur. Sementara tidak ada persoalan dalam musik-musik Barat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-10-1936). Persoalan ini terutama diantara ragam musik gamelan dan musik krontjong. Programa siaran terpusat ternyata dianggap menimbulkan masalah bagi pendengar. Langgam musik gamelan Jawa Timur terdapat perbedaan rasa bagi pendengar di Semarang dan Solo (Jawa Tengah), demikian sebaliknya. Hal yang sama juga dengan musik krontjong Batavia dan musik krontjong Soerabaja. Pengamat menyarankan untuk memikirkan siaran musik tradisi disesuaikan dengan wilayah pendengar (semacam desentralisasi) dalam pengemasan paket musik radio.
Yang jelas musik gambus dan musik tradisi (gamelan, kecapi) semakin intens muncul di radio. Pada tahun 1937 muncul musik Batak di programa radio NIROM di berbagai kota termasuk Soerabaja ((lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-08-1937). Musik Soenda (degung) juga telah mendapat tempat tersendiri di radio.
![]() |
| Het nieuws van den dag voor N-Indie, 27-08-1937 |
Hingga tahun 1938 Gamboes Orkest yang dipimpin oleh S Albar yang mengisi program musik di radio Soerabaja tidak ada yang menggantikan. Nama S Albar tetap eksis sejak muncul kali pertama bulan Juli 1935. Namun yang tetap menjadi pertanyaan adalah siapa S Albar atau Sech Albar?
![]() |
| Indische ct, 25-05-1938; Soerabaijasch hd, 20-07-1938 |
Meski S Albar sudah menyanyi, eksistensi musik (orkest) gambus di radio juga tetap berlangsung. Orkest gambus siapa tidak diketahui secara jelas apakah dipimpin oleh S Albar atau orang lain. Demikian juga orkest Batak juga sudah mulai muncul lagu-lagu (liederen) Batak (lihat Soerabaijasch handelsblad, 20-07-1938). Boleh jadi dalam hubungan ini S Albar membawakan lagu pop gambus atau sejenis dan lagu-lagu Batak sebagai lagu pop Batak. Satu yang baru program pada tahun 1938 ini adalah adanya azan Magrib di radio Batavia dan Bandoeng (lihat De Indische courant, 27-07-1938). Masih pada tahun 1938 Gamboes Orkest pimpinan Sech Albar yang juga diiringi dengan nyanyian (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-12-1938). Sech Albar telah menjadi penyanyi (vokalis). Penyanyi Mohamad Albar juga masih tetap eksis di radio (lihat De Indische courant, 27-07-1938).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 11-01-1939 |
Nyanyian (zang) yang dibawakan Sech Albar tampaknya tidak bergenre gambus tetapi diidentifikasi sebagai lagu Arab modern (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-02-1939). Dalam hal ini musik gambus adalah satu hal dan lagu Arab moderen (moderne Arabisch liederen) adalah hal yang lain lagi. Sebelumnya sudah ada genre Arabische chasidah.
Nama Sech Albar baik sebagai penyanyi maupun nama merek orkest gambus terakhir diberitakan dalam program radio di surat kabar pada bulan September 1939 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-09-1939). Nama Sech Albar dan orkest gambusnya lenyap bagaikan ditelan bumi. Indikasi apa ini sulit diketahui. Nama Sech Albar dengan orkes gambusnya baru muncul kembali sejak bulan Mei 1940 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-05-1940). Apakah Sech Albar sakit atau lagi bepergian ke luar negeri? Tidak ada keterangan. Sech Albar dan orkesrnya masih tetap eksis dan kembali lenyak jelang pendudukan militer Jepang. Program radio Sech Albar terakhir diberitakan di surat kabar pada tanggal 3 Februari 1942 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-02-1942). Berakhir sudah era kolonial Belanda dan berakhir pula orkest gambus Sech Albar.
Ayah Ucok AKA Harahap: Seorang Apoteker
Populasi marga Albar di Soerabaja sudah cukup banyak. Satu nama terpenting dari marga Albar di Soerabaja adalah Sech Albar pimpinan orkest gambus. Pada saat jaya-jayanya Sech Albar di Soerabaja tiba seorang pemuda ganteng bernama Ismail Harahap, seorang lulusan baru sekolah apoteker di Batavia 1940 yang ditempatkan di Soerabaja pada tahun 1941. Ismail Harahap kelak dikenal sebagai ayah dari Ucok AKA Harahap.
Ismail Harahap adalah pribumi pertama di Kota Soerabaja sebagai apoteker. Ismail Harahap adalah angkatan pertama dari sekolah/kursus apoteker (artsenubereidkunst) dua tahun (semacam akademi pada era kolonial Belanda). Ismail Harahap juga menjadi lulusan pertama tahun 1940 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940). Apoteker yang ada selama ini di Indonesia (baca: Hindia Belanda) adalah lulusan Belanda.
Ismail Harahap yang ganteng, pintar dan apoteker banyak dilirik gadis-gadis bule. Satu dari gadis-gadis bule ini adalah putri seorang Prancis yang sudah lama berdiam di Soerabaja. Dari hasil perkawinan ini lahir seorang putra yang juga ganteng pada 25 Mei 1943. Anak mereka itu diberi nama Andalas Harahap. Kelak anak tersebut dikenal sebagai Andalas Harahap gelar Datoe Oloan alias Ucok AKA Harahap.
Satu kloter dengan Ismail Harahap dari Tapanoeli pada tahun 1938 berangkat studi ke Batavia adalah Djames Harahap, Muslim Harahap dan Kalisati Siregar. Meski mereka bersekolah di Sibolga dan Medan, tetapi masing-masing ayah mereka berasal (kelahiran) Padang Sidempoean. Pada saat mereka berangkat ke Batavia, seorang marga Albar diangkat sebagai penilik sekolah HIS di Fort de Kock dan Pariaman (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-07-1938). Albar ini diketahui dulunya adalah alumni sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock dan melanjutkan studi keguruan ke Batavia pada tahun 1934.
Djames Harahap, Kalisati Siregar dan Muslim Harahap masuk sekolah ekonomi sementara Ismail Harahap masuk sekolah apoteker. Setelah lulus mereka berpencar. Ismail Harahap Harahap ditempatkan di Soerabaja sebagai apoteker. Sementara Muslim Harahap melamar kerja di Bank Nasional Indonesia di Medan. Sedangkan Djames Harahap melamar menjadi pegawai di Econemisch Zaken di Batavia. Seangkan Kalisati Siregar ditempatkan di kantor statistik di Batavia. Pada era pendudukan Jepang Ismail Harahap tetap di Soerabaja, Djames Harahap kembali ke Sibolga dan Kalisati Siregar kembali ke Padang Sidempoean. Muslim Harahap tetap di Medan. Pada era perang kemerdekaan mereka ikut mengungsi ke wilayah republik. Pada era pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda/NICA Djames Harahap menjadi kepala BNI 1946 di Sibolga, Muslim Harahap menjadi kepala Bank Nasional di Medan. Sementara Kalisati Siregar menjadi kepalda dinas perdagangan di Padang Sidempoean. Ismail Harahap membuka bisnis di Soerabaja dengan mendirikan apotik di Kaliasin.
Kelak empat pemuda Tapanoeli asal Padang Sidempoean ini lebih dikenal sebagai berikut: Ismail Harahap dikenal sebagai ayah Ucok AKA Harahap, pionir musik rock Indonesia. AKA adalah singkatan dari Apotik Kaliasin; Muslim Harahap dikenal sebagai tokoh sepak bola di Medan (pernah menjadi ketua PSMS); Djames Harahap yang telah menjadi kepala BNI Medan dikenal sebagai ayah dari Rinto Harahap dan Erwin Harahap (dua pendiri grup musik The Mercy’s). Last but not least: Kalisati Siregar dikenal sebagai ayah dari Hariman Siregar, ketua dewan mahasiswa UI (tokoh penting Malari 1974 di Jakarta). Dari empat tokoh ini hanya dua orang yang menyukai musik: Djames Harahap dan Ismail Harahap.
Di Soerabaja, tentu saja Ismail Harahap kenal dengan Sech Albar sebagai seorang pemusik. Seperti biasanya seorang pemusik mengenal dunia musik. Apakah ada persahabatan pemusik junior Ismail Harahap dengan pemusik senior Sech Albar tidak diketahui secara jelas,
Meski berbeda umur, Sech Albar dan Ismail Harahap menikah pada tahun yang sama di Soerabaja, 1942. Satu dari putra Sech Albar diberi nama Achmad Albar yang lahir tanggal 16 Juli 1946. Achmad Albar kelak diketahui, sebagaimana Ucok AKA Harahap, juga adalah seorang pemusik rock. Usia Ucok AKA Harahap dengan Achmad Albar beda tiga tahun.
Selama pendudukan militer Jepang bagaimana kehidup Ismail Harahap dan Sech Alatas tidak begitu jelas. Semua data dan informasi selama pendudukan militer Jepang tidak ditemukan (lagi) di surat kabar.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 mulai muncul berita-berita di surat kabar. Namun berita sura kabar tidak sebanyak sebelum pendudukan Jepang. Situasi dan kondisi di Soerabaja cepat berubah menjadi suasana perang (melawan Inggris/Sekutu dan Belanda/NICA. Ismail Harahap ikut mengungsi ke luar kota untuk membantu Wali Kota Soerabaja Dr. Radjamin Nasution (sekolah dan lulus sekolah Eropa ELS di Padang Sidempoean, 1905). Sementara itu Sech Albar tetap berada di dalam kota. Ketika muncul kembali radio di Soerabaja (yang dikuasai oleh Sekutu/NICA) penampilan Sech Albar muncul di radio (Radio AFRIS) dengan tetap mengusung musik gambus. Nama orkes gambusnya tidak lagi mengguinakana nama/merek Sech Albar tetapi dengan nama baru Alhambra yang mana sebagai penyanyi adalah Sech Albar (lihat Nieuwe courant, 20-02-1946). Namun setelah kemunculan di radio tersebut tidak terdeteksi lagi di surat kabar sebagai berita radio nama Sech Albar dengan orkest gambusnya (Alhambra).
Dari sumber lain diketahui bahwa Syech Albar telah meninggal di Soerabaja pada tanggal 30 Oktober 1947, Ini berarti Achmad Albar masih kecil ketika ditinggal oleh sang ayah.
Setelah perang usai (pengakuan kedaulatan RI), Ismail Harahap kembali ke Surabaya, tidak menjadi pejabat tetapi lebih memilih untuk membuka usaha apotik yang diberi nama Apotik Kali Asin. Namun karena republik Indonesia ingin membuka sekolah farmasi di Surabaya, maka Ismail Harahap diminta untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. Kepala sekolah yang ditunjuk adalah Dr. GP Parijs (Belanda), Drs. Gouw Soen Hok, Yap Tjiong Ing dan Tjoa Siok Tjong. Sekolah farmasi Surabaya tersebut, wisuda pertama pada tanggal 27 Juni 1954 (lihat De vrije pers : ochtendbulletin, 29-06-1954).
Andalas Harahap, setelah remaja sangat menyukai musik. Karena itu Ismail Harahap membelikan perangkat alat music kepada Andalas alias Ucok. Ketika Ucok dan kawan-kawan mendirikan grup musik (1967), nama pop Andalas menjadi Ucok AKA (Ucok Apotik Kali Asin). Grup musik mereka ini kemudian diberi nama AKA Groep yang mengusung musik rock.
Siapa Sesungguhnya Sech Albar?
Satu pertanyaan yang berlum terjawab yang justru pertanyaan utama adalah siapa sesungguhnya Sech Albar? Kita telah mengetahui siapa anaknya, yaitu Achmad Albar. Akan tetapi kita tidak/belum mengetahui siapa ayah Sech Albar (kakek Achmad Albar). Ke dalam pertanyaan ini yang paling pokok adalah siapa sesungguhnya Sech Albar? Semua tulisan (penulis) hanya menyebut ayah Achmad Albar adalah Sech Albar, seorang musisi dan penyanyi gambus.
![]() |
| Sech Albar |
Satu-satunya sumber tertulis yang mendekati nama kecil Sech Albar adalah sumber surat kabar tahun 1936. Disebutkan orkest gambus terkenal di Soerabaja yang dipimpin oleh A Albar (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-10-1936). Lalu inisial A ini siangkatan dari apa? Cukup banyak kandidat dalam marga Albar yang memiliki nama kecil yang dimulai dari huruf A, antara lain: Aloewi, Abdullah, Ali dan Achmad.
Nama Abdullah adalah seorang insinyur, Ir. Abdullah Albar (lihat De Indische courant, 11-03-1933). Nama Aloewi Albar pada tahun 1922 dan tahun 1932 berseteru dengan keluarga Baagil (lihat Soerabaijasch handelsblad, 27-09-1932). Achmad Almar seorang pedagang yang pernah mengalami pailit. Ali Albar adalah yang melakukan pelayaran dengan kapal ss Melchior Treub pada tahun 1927 (lihat De Sumatra post, 18-05-1927).
Sumber lain menyebutkan bahwa Sech Albar lahir pada tahun 1908 dan hanya bersekolah sampai kelas 3. Sumber lain juga menyebutkan Sech Albar pada tahun 1921 ke Hadramaut dan baru kembali ke Indonesia (baca: Hindia Belanda) pada tahun 1926.
Satu-satunya marga Albar yang melakukan perjalanan jauh pada tahun-tahun terakhir ini diduga hanyalah Ali Albar saja. Ali Albar melakukan pelayaran dari Batavia dengan menggunakan kapal ss Melchior Treub pada tahun 1927 menuju Amsterdam. Besar dugaan Ali Albar dalam pelayaran ini akan turun di Suez. Lalu dari Suez dengan menggunakan kapal lain ke Hadramaut? Dalam pelayaran ini Ali Albar tidak sendiri tetapi diduga dengan Mohamad Ibrahim? Berdasarkan informasi-informasi tersebut tidak masuk akal Ali Albar pada usia 13 tahun pada tahun 1921 ke Hadramaut. Namun jika Ali Albar berangkat pada tahun 1927 sangat logis. Selain usianya sudah dewasa umurnya 18 tahun, boleh jadi setelah mahir bermusik gambus di Soerabaja baru melakukan semacam studi ke Hadramaut, Jika Ali Albar dianggap berangkat studi musik ke Hadramaut tahun 1927 dan sepulangnya ke Hindia Belanda (baca: Indonesia) sangat mungkin kemahirannya bermusik gambus sudah mumpuni sehingga layak musiknya disiarkan di radio pada tahun 1935.
Sementara Sech Albar muncul sebagai musisi di surat kabar pada tahun 1935 (lihat De Indische courant, 25-07-1935). Sejak tahun 1935 musik gambus pimpinan Sech Albar atau Ali Albar tidak tergantikan. Bahkan pemusik gambus dari Batavia Ibrahim dan Alaidroes tidak mampu menandinginya. Boleh jadi dalam hal ini, teman seperjalanan Ali Albar atau Sech Albar ke Hadramaut adalah (Mohamad) Ibrahim salah satu pemusik gambus dari Batavia. Dengan demikian, nama kecil dari Sech Albar diduga kuat adalah Ali (Albar).
![]() |
| Ali Albar dengan Sech Albar Oschestra (piringan hitam) |
Di dalam surat kabar sejaman tidak pernah ditemukan Ali Albar sebagai penyanyi gambus, yang ada di surat kabar hanyalah Sech Albar. Nama Ali Albar sebagai penyanyi gambus hanya terdapat pada label gram plate (piringan hitam). Dengan demikian, sekali lagi, Ali Albar adalah Sech Albar; atau Sech Albar adalah Ali Albar.
Stambuk Sech Albar
Satu pertanyaan yang masih tersisa adalah siapa ayah Sech Albar? Pada masa ini tidak ada yang pernah menyebutnya. Demikian juga pada surat-kabar sejaman di era kolonial Belanda juga tidak ada keterangan yang menghubungan Sech Albar dengan nama Albar lainnya yang menjadi ayahnya.
![]() |
| Farida Alhasni |
Sementara garis Sech Albar ke atas sulit ditelusuri, sebaliknya garis keturunan ke bawah lebih mudah diketahui, Sech Albar menikah kembali dengan Farida Alhasni. Mereka memiliki dua anak, satu diantara Achmad Albar (lahir 1946). Sech Albar meninggal tahun 1947. Farida Alhasni menikah lagi dengan Djamaloedin Malik. Mereka memiliki anak diantaranya Camelia Malik (lahir 1955).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com















Tidak ada komentar:
Posting Komentar