Sejarah Jakarta (64): Sejarah Sawah Besar, Kampung Ridwan Saidi; Baheula di Pinggir Kali Ciliwung, Kini Lintasan Kereta Api
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini
Sawah Besar, menurut namanya, nir hanya soal sawah yang sangat luas, namun juga tergolong area yg terbilang nisbi masih baru (sawah luas terbentuk karena dibangunnya irigasi). Menurut Ridwan Saidi di area inilah beliau dilahirkan. Dalam bahasa sekarang: ?Anak Sawah Besar?. Kini, area sawah yang luas itu berada di tengah kota yg sangat sibuk & padat penduduknya, Begitu padatnya daerah area Sawah Besar, lintasan rel kereta barah harus diangkat ke atas (menjadi jalur layang kereta) dan mulai dioperasikan pada pertengahan tahun 1992.
![]() |
| Area Sawah Besar (Peta 1682) |
Satu hal yang paling menarik dari warisan sejarah masa lalu adalah bahwa tempo doeloe (baheula) di tengah area yang menjadi sawah luas itu (terbentuknya kampong Sawah Besar) mengalir kali Ciluwung, air yang tenang tetapi menhanyutkan. Untuk mewujudkan perluasan kota, mengedalikan banjir dan mengoptimalkan pengaturan ketinggian air di pelabuhan (yang berpusat di Kali Besar) lalu ruas sungai Tjiliwong antara benteng Noordwijk (kini stasion Juanda) dan Manggadoea (kini stasion Mangga Dua) ‘dilikuidasi’. Lalu pada tahun 1869 di bekas kali Tjiliwong itu dibangnn rel kereta api (ruas stasion Juanda dan stasion Mangga Dua). Bagaimana itu semua terjadi dan terhubung? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Jalan Akses Pakwan-Padjadjaran ke Soenda Kalapa di Sisi Barat Sungai Tjiliwong
Jakarta tidak terbentuk dalam semalam, tetapi ratusan tahun. Satu yang sudah terbentuk sejak lampau, tidak pernah berubah adalah sungai Tjiliwong. Oleh karena itu dalam sejarah Jakarta, sungai Tjiliwong harus ditempatkan sebagai batang (pokok) sejarah atau kepala sejarah. Di sisi timur sungai Tjiliwong inilah berada awal mula Jakarta (sekitar Mangga Dua sekarang).
Nama Jakarta sudah muncul sejak lama. Paling tidak sudah muncul dalam laporan Portugis. Seorang Portugis, Joao de Barros di dalam laporannya (1527) di pantai utara Jawa terdapat tujuh pelabuhan penting, yakni: Chiamo, Xacatara, Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang dan Bantam. Penulis-penulis geografi Belanda mengidentifikasi Chiamo sebagai Tjimanoek (Indramajoe), Xacatara sebagai Jacatra, Caravam sebagai Karawang, Tangaram sebagai Tangerang, Cheguide (Tjikande), Pondang (Pontang) dan Bantam (lihat Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1906, 01-01-1906). Dari keterangan ini, dapat diinterpretasi, sudah tentu nama Jakarta sudah ada jauh sebelum tahun 1527.
Nama Jakarta (baca: Xacatara) paling tidak sudah diberitakan/dilaporkan pada tahun 1527. Pada tahun yang sama Demak menduduki (pelabuhan) Banten dan menduduki pelabuhan Kalapa. Oleh karena nama Jakarta sudah ada jauh sebelum 1527, dapat diinterpretasi, Demak pada tahun 1527 (juga) menaklukkan (kerajaan?) Jakarta.
Penaklukkan Jakarta mengakibatkan (pusat) kerajaan Jakarta berganti rezim, dari rezim lama menjadi rezim (asal) Demak. Kerajaan Jakarta sebelum dan sesudah berganti rezim, pelabuhannya adalah Kalapa. Oleh karena itu, pelabuhan Kalapa adalah pelabuhan Jakarta (sesuai Joao de Barros: Xacatara).
Pelabuhan Kalapa tidak hanya digunakan oleh (kerajaan) Jakarta, tetapi juga oleh kerajaan di Tanah Soenda, Pakwan-Padjadjaran. Dalam hal ini, pelabuhan Kalapa adalah pelabuhan internasional yang mana Jakarta dan Pakwan-Padjadjaran memiliki akses. Kerajaan Jakarta melalui akses air (sungai) Tjiliwong (sisi timur sungai Tjiliwong). Sedangkan Kerajaan Pakwan-Padjadjaran melalui akses darat (sisi barat sungai Tjiliwong).
Pakwan-Padjadjaran, sebagai kerajaan besar yang berpusat di Bogor sekarang, memiliki banyak akses menuju laut (pelabuhan): ke pantai selatan melalui Tjimandiri ke Pelabuhan Ratu sekarang; ke pantai utara, yakni Chiamo (Cimanuk/Indramayu), Xacatara (Kalapa Jakarta melalui sungai Ciliwung), Caravam (Karawang melalui sungai Cibeet), Tangaram (Tangerang melalui sungai Cisadane), Cheguide (Cikande melalui sungai Tjikande atau sungai Tjidoerian), Pondang (Pontang) dan Bantam (Banten). Kerajaan Jakarta diduga adalah kerajaan kecil yang menjadi vassal dari Kerajaan Pakwan-Padjadjaran (yang menjadi sebab pelabuhan Kalapa dipandang sebagai pelabuhan bersama).
Penulis-penulis Portugis selanjutnya, pelabuhan Kalapa adakalanya ditulis sebagai pelabuhan Sonda Calapa (Soenda Kalapa). Penyebutan Kalapa menjadi Soenda Kalapa menjadi lebih intens setelah pendudukan Demak hingga menjelang kehadiran pelaut-pelaut Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597).
Nama Kalapa (Xalapa) juga ditemukan di Mexico sebagai pelabuhan penting. Tidak jelas mana yang lebih dulu Kalapa di timur atau Xalapa di barat. Dua pelabuhan ini berada di wilayah (dekat) tropis. Faktor Portugis (sebelum kedatangan Spanyol) sangat pnting di dua pelabuhan yang berjauhan.
Akses kerajaan Pakwan-Padjadjaran ke laut/pelabuhan melalui sisi barat sungai Tjiliwong. Jalan akses ini merupakan jalan kuno yang kini dikenal melalui Kedong Badang, Tjileboet, Bodjongmanggis/Bodjong Gede, Pondokterong/Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Sringsing/Lenteng-agoeng, Tandjoeng/Pasar Minggu, Menteng, Tjikini, terus ke Soenda Kalapa. Jalan akses ini tidak pernah memotong sungai, jalan ini berada diantara sungai Tjiliwong dengan sungai Kroekoet (bermuara di setu Tjitajam di Pondokterong).
Jalan akses Pakwan-Padjadjaran ini pada permulaan Pemerintahan Hindia Belanda masih terdeteksi mulai dari Tjikini hingga Soenda Kalapa yakni melalui Prapatan terus ke jalan Merdeka Timur ke arah Istana lalu ke Harmoni dan seterusnya melalui jalan Gadjah Mada/Hayam Wuruk ke Sonda Kalapa.
Dalam literatur Portugis, satu sumber yang cukup detail menggambarkan situasi dan kondisi umum di Jawa sebelum kedatangan Belanda adalah buku Tome Pires (1512-1515). Tome Pires menyebut nama pelabuhan (port) Calapa. Penyebutan nama Cunda Calapa baru ditemukan dalam laporan Duarte Barbosa (1518). Nama Jacatra baru muncul dalam laporan Joao de Barros (1527). Untuk sekadar informasi, buku-buku Tome Pires, Duarte Barbosa, Joao de Barros dan Fernao Mendes Pinto pada masa kini dapat diakses di internet.
Demikian juga dengan jurnal perjalanan ekspedisi Cornelis de Houtman (1595-1597) pada masa ini dapat diakses di internet. Dalam laporan ekspedisi yang dipimpin Cornelis de Houtman (1595-1597) nama tempat di muara sungai Tjiliwong adalah Cunda Calapa, Laporan ini berjudul Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent (yang diterbitkan tahun 1598). Ekspedisi Cornelis de Houtman ini berada di Cunda Calapa pada bulan November 1596.
Dalam ekspedisi kedua Belanda tiba di pulau Sumatra pada tanggal 13 Desember 1604 Lalu pada tanggal 17 Januari 1605 kapal-(kapal) Belanda menyingkir dari Banten dan bergerak ke ke kepulauan Maluku. Sebelum ke Maluku mereka singgah di Jacatra dan tanggal 15 Februari tiba di Bima. Ini mengindikasikan nama Jacatra sudah dicatat Belanda. Pada ekspedisi pertama Belanda hanya mencatat nama pelabuhannya saja (Cunda Calapa). Ini mengindikasikan pemahaman mereka di seputar muara sungai Tjiliwong semakin meningkat. Pelabuhan Cunda Calapa berada di sisi barat muara sungai Tjiliwong, sedangkan (pusat kerajaan) Jacatra berada agak ke pedalaman (di sekitar Mangga Dua sekarang).
Perluasan Kota (Stad Batavia): Fort Jacatra, Fort Noordwijk, Fort Risjwijk dan Fort Angke
Sejak VOC/Belanda memindahkan basis perdagangannya dari Amboina ke (pelabuhan) Soenda Kalapa, mulai muncul untuk menguasai (kerajaan Jacatra). Hubungan VOC/Belanda dengan kerajaan Jacatra bersifat mutualisme. Kerajaan Jacatra ingin bebas dari (pengaruh) Banten lalu menjalin kerjasama dengan VOC/Belanda. Untuk itu hak monopoli perdagangan diberikan kepada VOC/Belanda sementara untuk melindungi kerajaan Jacatra, VOC/Belanda membangun pertahanan di (pulau) Ontong Djawa yang mana pulau Ontong Djawa dan sungai Tjisadane sebagai batas antara kesultanan Banten dengan kerajaan Jacatra. Dalam perkembangannya, khawatir dengan serangan dari Banten, VOC/Belanda lalu menyerang/melumpuhkan kerajaan Jacatra dan menawan rajanya. Sejak ini, JP Coen memperkuat Kasteel Batavia dan mulai membangun kota (1619).
![]() |
| Kasteel Batavia, 1618 |
![]() |
| Sketsa Srad Batavia, 1619 |
![]() |
| Sketsa Stad Batavia, 1624 |
Kesultanan Banten tentu saja tidak berdaya lagi untuk menyerang Jacatra yang telah berubah menjadi Batavia. Akan tetapi tidak dengan Kerajaan/Kesultanan Mataram. Lalu muncullah apa yang kita kenal dengan serangan Mataram ke Batavia tahun 1628. Setelah serangan Mataram, VOC/Belanda mulai membentuk pertahanan ganda dengan membangun benteng-benteng di luar Kasteel Batavia.
![]() |
| Kali Besar Stad Batavia |
Benteng yang pertama dibangun, di luar Kasteel Batavia adalah benteng (fort) Jacatra. Benteng ini dibangun sejatinya hanya untuk menjaga pusat kerajaan Jacatra dari gangguan luar. Hal ini karena kerjasama VOC/Belanda dengan raja Jacatra telah memancing berbagai pihak tidak senang dengan boneka VOC/Belanda tersebut. Raja Jacatra sendiri sudah berumah di dalam kota (stad0 Batavia.
![]() |
| Fort Jacatra dan fort lainnya |
Dalam perkembangannya pembangunan benteng-benteng di luar Kasteel Batavia ditambah. Hal ini sehubungan dengan dimulainya era baru dalam eksploitasi perkebunan tebu dan pabrik gula di seputar Batavia. Benteng-benteng baru tersebut adalah benteng Noordwijk, benteng Riswijk dan benteng Angke serta benteng Vijfhoek.
Wilayah eksploitasi perkebunan dan pabrik semakin meluas sehingga pada akhirnya kemudian dibangun benteng-benteng di Tangerang, di Antjol, di Buitenzorg, di Bekasi dan di Tandjoeng Poera (Karawang). Dalam perkembangan selanjutnya dibangun lagi benteng di Serpong, Tandjong, Tjirebon, Tegal dan Goenoeng Parang (Soekaboemi). Setelah benteng Missier di Tegal, benteng baru dibangun di Semarang dan di Soeranaja.
Kanalisasi: Sawah Besar
Pada tahun 1663 VOC/Belanda mengubah kebijakannya dari perdagangan yang longgar di pantai menjadi kebijakan yang mana penduduk dijadikan sebagai subjek. Penduduk dilibatkan untuk peningkatan produksi domestik seperti beras dan produksi seperti gula. Penduduk juga dijadikan sebagai agen perdaganag di pedalaman.
![]() |
| Peta 1682 |
Langkah yang pertama dilakukan adalah membuka dan eksploitasi pertanian di seputar kota Batavai. Lahan-lahan rawa dan lahan kerap terkena banjir diubah dengan mulai membangunan kanal irigasi, Kanal yang dibangun juga berfungsi sebagai drainase. Teknologi kanal yang selama ini fokus dan terbatas di dalam pengembangan kanal dalam kota diperluas ke luar kota dengan membangun kanal drainase dan irigasi.
![]() |
| Peta 1740 |
Seperti tampak pada Peta 1682 sudah teridentifikasi lahan-lahan perkebunan tebu dan lahan-lahan persawahan. Pada persil lahan kedua dan ketiga dari kanal adalah persawahan (Rijst velder). Persawahan yang luas ini diduga kelak menjadi timbulnya nama area Sawah Besar (kini kecamatan Sawah Besar). Pada peta 1740, persil pertama dari kanal adalah perkebunan kelapa untuk tujuan produksi minyak goreng. Perkebunan kelapa yang luas ini diduga menjadi asal mula munculnya kampong Kebon Kalapa (kini kelurahan Kebon Kelapa).
![]() |
| Lukisan 1750 |
Kali Mati: Gang Patjenongan
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pembangunan Jalur Kereta Api: Halte Sawah Besar
Tunggu deskripsi lengkapnya
Onderdistrict Menjadi Kecamatan: Chinese Kerkweg Menjadi Jalan Lautze
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com













Tidak ada komentar:
Posting Komentar