Sejarah Jakarta (61): Si Pitung dan Fakta Sebenarnya, 1892; Menulis Ulang Sejarah Si Pitung Berdasarkan Data Tersedia dan Valid
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini
Kisah Si Pitung menjadi legenda itu hanya ditemukan dalam kisah Si Pitung yg diangkat ke layar putih (film) pada tahun 1931 (lihat De Indische courant, 29-06-1931). Film ini sejatinya ingin mengangkat kisah konkret Si Pitoeng, tetapi lantaran kebutuhan komersil, ceritanya diperkaya memakai unsur herois
![]() |
| Nieuwe courant, 17-10-1947 |
Namun sejarah tetaplah sejarah, fiction adalah fiction. Sejarah adalah suatu narasi tentang fakta. Sehubungan dengan banyaknya kisah tentang fakta seseorang yang diangkat ke dalam fiction (film, opera dan roman) maka kita masa kini harus kembali memisahkan konten fakta dan konten fiksi. Dengan demikian, kita bisa membebaskan diri melihat apa yang menjadi fakta dan apa yang menjadi fiksi. Untuk melihat fakta sebenarnya tentang Si Pitung mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe (sumber sejaman).
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Si Pitung Mininggal Tertembak Peluru Schout Hinne
Salihoen alias Si Pitoeng meninggal pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 1893 pada pukul setengah tujuh malam, beberapa jam setelah ditahan. Si Pitoeng meninggal akibat luka yang dialaminya terkena tembakan Schout Hinne pada sore harinya pukul lima dalam suatu pengepungan. Selama perjalanan dari tempat tertembak hingga penjara kota, salah satu opas pengawal terus menghibur Si Pitoeng yang sekarat dengan menyanyikan lagu gembira. Sambil menahan sakit Si Pitoeng sempat meminta ‘towak sama ijs’ (tuak dengan es).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad edisi Senin 08-08-1892 |
Untuk dipahami oleh pembaca, petualangan Si Pitoeng adalah suatu kasus umum. Berita terkait dengan Si Pitoeng antara tanggal 08-08-1892 hingga 16-10-1893 perkembangannya dari waktu ke waktu diberitakan surat kabar (nasional) Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie dan surat kabar (daerah) Bataviaasch nieuwsblad. Dua surat kabar ini terbilang sangat kredibel, ibarat koran Media Indonesia dan koran Pos Kota. Oleh karena itu kasus Si Pitoeng dapat ditelusuri secara terang benderang tanpa harus merasa ‘masuk angin’.
![]() |
| De Indische courant, 29-06-1931 |
Siapa Salihoen?
Nama Salihoen sangat umum di Batavia. Nama Salihoen juga ditemukan di tempat lain. Nama Salihoen ada yang masih muda dan ada yang bergelar hadji. Namun ada nama Salihoen yang cukup menarik perhatian. Salihoen tinggal di kampoeng Doeri yang berprofesi sebagai pedagang minuman enak (lihat Bataviaasch handelsblad, 16-06-1880). Disebutkan ketika Salihoen sedang sibuk memasak pada sore hari tanggal 14 ini, ketika terpikir olehnya bahwa ia masih memiliki pesanan untuk diserahkan kepada seorang tetangga. untuk membawa. Dia meninggalkan dapurnya namun 10 menit kemudian, bukan hanya dapurnya, tetapi seluruh bangunan luarnya juga terbakar. Bantuan segera datang dari tetangga segera sebelum kerusakan lebih lanjut terjadi.
Tentu saja pedagangan minuman enak Salihoen yang dapurnya terbakar tidak dapat langsung dihubungkan dengan nama Salihoen yang menjadi buronan polisi pada tahun 1892. Sebab nama Salihoen cukup banyak. Satu nama Saliehoen asli Kwitang didakwa dengan hukuman tiga bulan kerja paksa di luar kota dengan rantai karena terbukti di pengadilan mencuri jambu sebanyak 28 batang di suatu kebun (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1885). Sabtu lalu dijatuhi hukuman: penduduk asli Salihoen dihukum 1 bulan penjara karena mencuri selimut wol (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-07-1887). Kemarin malam penduduk asli Salihoen, Sainan, Boemamin dan Moedjareh karena mereka berkelahi di jalan umum (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-12-1887). Polisi mevonnis 8 hari tahanan kepada penduduk asli Oentjing, Salihoen, Jedan dan Pi-ien kerena tidak melakukan layanan umum (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1887). Penduduk asli Salihoen ditahan selama enam hari karena tidur di pos jaga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-12-1887). Penduduk asli Salihoen dihukum denda f5 karena mengendarai kendaraannya secara ugal-ugalan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-01-1888). Penduduk asli Salihoen kemarin, sebagai kaki tangan dalam satu pencurian, ditangkap (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-05-1888). Polisi mendenda f3 penduduk asli Ming, Salihoen dan Sidin karena ketiganya parkir dengan kendaraan mereka di tempat-tempat dimana tidak diizinkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-08-1888). Dengan cara merusak kemarin, pencurian bubuk di rumah wanita penduduk asli Sima di Doerie, penduduk asli Salihoen ditangkap oleh polisi sebagai tersangka pelaku (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-08-1888). Penduduk asli Salihoen didenda karena memacu kendaraannya di tempat umum (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-06-1889). Penduduk asli Salihoen dihukum denda f3 karena mengendarai kendaraannya dengan ngebut (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-02-1890). Kemarin dijatuhi hukuman 14 hari pribumi Sanie dan Salihoen karena berkelahi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-07-1890).
Begitu banyak yang disebut nama Salihoen. Tidak semua nama Salihoen berperkara. Namun tidak dapat dikatakan nama Salihoen yang berperkara saling terhubung atau merujuk pada satu orang. Yang jelas ada nama Salihoen yang kerap berurusan dengan polisi dan (pengadilan). Nama Salihoen adalah nama yang umum digunakan, ada yang baik dan ada juga yang nakal atau jahat. Begitu banyaknya nama Salihoen seakan menjadi suatu marga. Tidak semua Harahap baik dan ada juga yang tidak baik. Namun ada nama Salihoen yang menjadi pengecualian yakni Salihoen alias Pitoeng.
Nama alias Salihoen, selain Pitoeng, apakah karena kesalahan ketik, adakalanya ditulis sebagai Petoeng. Arti kata pitung dan petung tidak sama. Petung adalah jenis bambu dan ada yang menggunakannya sebagai nama kampong (land) Pondok Petoeng. Sedangkan pitung dalam bahasa Jawa adalah tujuh. Lantas merujuk apa nama Pitoeng yang nama aslinya Salihoen? Tidak ditemukan penjelasan.
.
Nama Salihoen sudah barang tentu tidak selalu merujuk pada nama Si Pitoeng. Namun nama Si Pitoeng merujuk pada nama aslinya yang disebut Salihoen. Lantas apakah ada nama Salihoen yang berjiwa baik, patriot dan penderma seperti yang dipersepsikan kemudian sebagaimana kisahnya telah diangkat ke layar putih tahun 1931. Itu jelas membutuhkan penelitian tersendiri. Dalam artikel ini hanya mengacu pada nama Salihoen yang disebut memiliki nama lain Si Pitoeng yang kali pertama dilakukan penyelidikan di rumahnya pada bulan Agustus 1892 karena tuduhan mencuri di rumah Ny. DC dan ikut merampok di rumah Hadji Sapioedin di Maroenda. Nama Salihoen alias Pitoeng inilah yang akan ditelusuri hingga menemukan kematian di tangan Schout Hinne pada tanggal 14 Oktober 1893.
Buronan Si Pitoeng
Setelah dilakukan penyelidikan ke rumah Salihoen alias Si Pitoeng di Soekaboemi pada tanggal 6 Agustus 1892 (Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1892), Salihoen alias Pitoeng (selanjutnya dalam tulisan ini disebut saja Pitoeng), Pitoeng menjadi burun (orang yang dicari!). Pada masa ini Si Pitung disebut lahir di (kampong) Rawa Belong, kelurahan Sukabumi Utara, kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 09-08-1892 |
Salihoen alias Pitoeng segera dapat ditangkap (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-08-1892). Disebutkan penjahat ini bisa ditangkap karena jatuh ke jerat. Residen (Bayavia) telah memerintahkan mata-mata untuk membujuk Pitoeng agar membayar denda karena kepemilikan senjata api yang dimilikinya tanpa lisensi di kantor kepala djaksa. Pitoeng ditangkap di kantor Djaksa. Selain itu, disebutkan enam orang dari Meester-Cornelis telah mengakui Pitoeng sebagai pemimpin perampokan di rumah Hadji Sapioedin di Meroenda. Pitoeng juga disebutkan, antara lain senjata api terebut berasal dari pencurian yang dilakukannya di rumah Mr F di land Grogol.
Kepada mata-mata telah diberikan hadiah sebesar f100 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-08-1892). Sementara itu, pribumi Adidie, yang dianggap sebagai kaki tangan dalam kejahatan Pitoeng dan ditempatkan di bawah pengawasan 2 opas dan 1 mandoor, berhasil melarikan diri kemarin dengan dalih bahwa dia lapar dan ingin membeli sesuatu. 3 petugas polisi tersebut harus bertanggungawab untuk ini (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-08-1892).
Pitoeng akhirnya memasuki tahap persidangan, namun prosesnya harus ditunda karena ketidakhadiran saksi-saksi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-11-1892). Disebutkan bahwa dewan pengadilan (landraad) terhadap kasus Pitoeng, yang dituduh melakukan pencurian di rumah Mrs. DC atas barang-barang senilai f188, yang seharusnya diadakan kemarin, harus ditunda hingga saat ini, karena saksi-saksi Oessin, Ketjiel dan Resam tidak muncul di persidangan.
![]() |
| Peta 1890an |
Persidangan kasus Pitoeng dilanjutkan kembali pada tanggal 17 November 1892 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-11-1892). Disebutkan bahwa hari ini penduduk pribumi Pitoeng alias Salihoen, dibebaskan dari tuduhan mencuri pada malam hari di rumah (seorang Eropa) Ny DC (Ny Du Cl.) di Tanah Abang. Meski demikian, Pitoeng masih tetap ditahan karena masih ada kasus lain yang dituduhkan kepada Pitoeng yakni perampokan di rumah Hadji Sapioedin di Maroenda (district Bekasi). Hasil keputusan pengadilan kasus Pitoeng dalam hal perampokan di Maroenda (afdeeling Bekasi) dijatuhi hukuman mati (karena dilakukan lebih dari dua orang).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 17-11-1892 |
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 20-12-1892 |
Pitoeng Melarikan Diri dari Penjara
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com











Tidak ada komentar:
Posting Komentar