Sejarah Air Bangis (22): Ujung Gading dan Sejarahnya; Mandailing di Tjoebadak, Parit, Simpang Tonang, Aur, Djonggor, Batahan
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis pada blog ini Klik Disini
Oedjoeng Gading, bukanlah nama kampong kemarin sore. Nama kampong Oedjoeng Gading sudah sangat antik, bahkan nama Odjoeng Gading lebih dahulu ada dibandingkan nama Air Bangis. Sebagaimana Pasaman & Batahan, nama Oedjoeng Gading juga merupakan nama sungai. Nama Air Bangis jua merupakan nama sungai. Nama sungai Oedjoeng Gading & nama sungai Air Bangis merujuk dalam sungai yang sama. Nama sungai Oedjoeng Gading pada hulu, nama sungai Air Bangis pada hilir.
![]() |
| Odjoeng Gading (Peta 1595) |
Berdasarkan sensus penduduk tahun 1930 penduduk Oedjoeng Gading seluruhnya adalah orang Mandailing. Keterangan ini tentu ada merupakan. Sebagai sebuah kampong besar berjumlah penduduk banyak (
![]() |
| Sungai Sikarbou, Antara Ujung Gading dan Air Bangis (Now) |
Nama Oedjoeng Gading Lebih Tua dari Air Bangis
Banyak sumber untuk memahami sejarah masa lampau. Namun diantara sumber yang ada lebih valid tulisan dan lukisan daripada lisan. Tarih suatu tulisan semakin tua akan semakin menjelaskan seberapa jauh sejarah berlangsung ke masa lampau. Tidak hanya itu, tulisan yang bertarih tahun yang sama tingkat validitasnya juga berbeda menurut jenis sumber. Karena itulah norma dalam penulisan yang lazim dalam dunia akademik membutuhkan rujukan. Rujukan dalam hal ini adalah sumber yang memiliki tingkat validitas tinggi. Tidak dapat diandalkan seorang tetua di Odjoeng Gading atau di Air Bangis untuk menggambarkan bagaimana sejarah dua kota itu secara lisan tiga abad lampau.
![]() |
| https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/dari-ayer |
Bagaimana gambaran (fakta dan data) masa lampau kota Oedjoeng Gading tentu masih menarik untuk ditelusuri. Kesulitan akses data selama ini menjadi halangan bagi penulis untuk menulis sejarah. Namun kini semua data masa lalu dalam bentuk tertulis sudah dibuka sumbernya. Hanya tinggal membacanya. Sumber-sumber masa lalu kita (Indonesia-Hindia Belanda) umumnya tertulis dalam bahasa Belanda. Oleh karena itu untuk menggali data sejarah jangan lagi membaca isi turi-turian yang ditulis di kulit pohon atau permukaan bambu (apalagi tulisan itu dibuat belum lama untuk menceritakan sesuatu yang terjadi beberapa abad yang lalu). Jika metodologi turi-turian yang digunakan untuk menganalisis sejarah masa lampau, Anda sebenarnya tidak tahu apa pun (si Parturi lebih cerdas dari Anda).
![]() |
| Sikarbou (Peta 1665) |
Berdasarkan peta morpologi yang diterbitkan pada tahun 1904 antara pantai dengan kota Oedjoeng Gading adalah rawa yang sangat luas. Area daratan di daerah rawa tersebut adalah gunung Djawi-Djawi dan bukit Pintjoeran. Sebelum terbentuknya rawa, gunung Djawi-Djawi dan bukit Pintjoeran adalah dua pulau di tengah laut. Pada jaman doeloe ada satu faktor utama mengapa terbentuk rawa besar di pantai (seperti di Jawa) adalah adanya suatu kejadian alam yang luar biasa yakni letusan gunung berapi yang menyebabkan lumpur dari material lainnya terbawa dari hulu ke laut. Dalam hal ini diduga telah terjadi letusan gunung Malintang atau gunung Koelaboe. Gunung Malintang (2.200 M) disebut sebuah gunung berapi yang tidak lagi aktif. Dua sungai yang berasal dari lereng gunung ini adalah Batang Si Kilang dan Air Bangis atau Batang Sikabau bersama-sama yang secara keseluruhan membentuk rawa yang tenang (lihat Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1916).
Lumpur dan material yang terbawa ke pantai oleh sungai Sikarbou telah tersedimentasi karena halangan pulau Djawi-Djawi dan pulau Pintjoeran. Terjadi proses sedimentasi (rawa-rawa) menyebakan aliran sungai Sikarbou mencari jalan sendiri ke laut. Aliran ini dapat berbeda sewaktu-waktu seiring dengan proses sedimentasi. Pada akhirnya aliran sungai Sikarbou di daerah rawa-rawa menemukan jalannya yang tetap, menuju celah antara daratan dan pulau Pintjoeran. Pada muara baru sungai Sikarbou ini kemudian muncul kampong baru yang disebut Air Bangis. Adanya nama tempat ini (Air Bangis) nama sungai Sikarbou di hilir menjadi Air Bangis (ruas sungai antara kampong Air Bangis dengan kampong (kota) Odjoeng Gading). Pola penamaan (navigasi) sungai serupa ini umum ditemukan seperti di Jawa, antara lain sungai Tangerang (asal Tjisadane), sungai Bekasi (Tjilengsi), sungai Jacatra (Tjiliwong) dan sungai Karawang (asal Tjitaroem). Fenomena alam yang berlangsung lama ini mengindikasikan bahwa kota-kota di pantai utara Jawa, seperti Jakarta (Batavia), Teluknaga-Tangerang, Karawang dan Bekasi tempo doeloe adalah lautan. Seperti halnya Air Bangis, kota-kota pantai adalah Jacatra (muara sungai Tjiliwong), Babakan (muara sungai Tjisadane) dan Bantar Gebang (muara sungai Tjilengsi) dan Karawang (muara sungai Tjitaroem). Oleh karena itu sungai yang sama: Tjiliwong di hulu, sungai Jacatra di hilir; Tjisadane di hulu, Tangerang di hilir; Tjilengsi di hulu, sungai Bekasi di hilir; Tjitaroem di hulu, sungai Karawang di hilir.
Pola yang serupa yang dekat dengan pembentukan kampong (kota) Air Bangis adalah kampong (kota) Natal di muara sungai Batang (setelah terbentuknya kota Natal nama sungai menjadi sungai Batang Natal). Dalam literatur kuno nama Batahan adakalanya disebut Batang. Batahan merujuk pada bahasa Arab (Batahin atau Bathan yang artinya orang Arab). Setelah nama Baros, nama yang terbilang sangat tua di pantai barat Sumatra adalah Batahan sebagai pusat perdagangan (produk kuno seperti kamper, kemenyan, emas dan gading). Orang-orang Eropa yang datang kemudian (Portugis) melafalkan Batahan menjadi Batang. Besar dugaan Batahan atau Batang adalah pelabuhan yang terbentuk karena pedagang-pedagang Arab, yang mana orang-orang India telah membentuk koloni di pedalaman di pertemuan sungai Batang Angkola pada dan Batang Gadis pada abad ke-8. Orang-orang Arab yang diduga telah memiliki basis di pantai barat Sumatra, orang India yang telah menyebar di pedalaman termasuk Rao dan Agam kemudian membentuk jalur pedagangan ke timur (munculnya percandian Padang Lawas dan Muara Takus) yang pada gilirannya muncul kerajaan besar: Kerajaan Aroe (Batak Kingdom). Dalam perkembangannya, nama Batang (Batahan) menjadi penanda navigasi untuk semua sungai-sungai terutama di wilayah Tapanuli yang sekarang (Batang dalam bahasa Batak adalah sungai; sementara sungai adalah bahasa Melayu yang awalnya ditulis dalam aksara Latin sebagai Songei, Songi, Soengei dan sebagainya). Semua nama-nama sungai besar yang berhulu di pedalaman menggunakan Batang untuk menyatakan sungai, seperti sungai Batang Toroe, Batang Gadis-Batang Angkola, Batang Natal dan Batang Batahan (serta Batang Sikarbou). Idem dito di Jawa: Caly atau Kali untuk menyatakan Tji atau Tsji. Dalam hal ini Batang Batahan, Batang Sikarbou dan Batang Pasaman semuanya berhulu di gunung (api) Malintang (Mandailing) dan gunung Koeloboe (Mandailing-Rao). Gunung yang terlihat di arah kanan sungai Pasaman disebut gunung Pasaman (Ophir).
Secara teoritis Air Bangis adalah nama tempat yang baru, sedangkan Oedjoeng Gading adalah nama yang jauh lebih tua. Secara empiris dengan memperhatikan peta morpologi Air Bangis dan membandingkan pola-pola penaman nama tempat dan nama sungai di tempat lain, diduga kuat bahwa sebelum terbentuk kampong Air Bangis sudah terbentuk kampong Oedjoeng Gading. Kampong Odjoeng Gading diduga adalah pelabuhan (muara sungai) produk-produk yang berasal dari pedalaman (Mandailing dan Rao). Pelabuhan Oedjoeng Gading diduga hanya sebagai pelabuhan pengumpan (feeder) untuk pelabuhan-pelabuhan besar.
![]() |
| Pelabuhan Batahan, Tkoe, Priaman (Peta 1753) |
Oedjoeng Gading Pelabuhan Kuno Setua Batahan
Pada peta-peta kuno, nama-nama yang dicatat adalah Batahan, Pulo Babi dan Sikarbou (lihat Peta 1657). Belum diidentifikasi nama Oedjoeng Gading. Pada peta yang lebih muda (Peta 1665) tiga nama ini tetap diidentifikasi. Namun nama yang telah dikunjungi oleh orang Eropa baru nama (sungai) Batahan. Ini dapat dilihat dari penandaan navigasi kedalaman laut di sisi luar muara sungai (sekitar 20 M).
![]() |
| Peta 1657 |
Kapan terbetuknya nama tempat Air Bangis diduga setelah terbentuknya pulau Babi. Nama tempat Air Bangis inilah yang kemudian nama sungainya disebut sungai Air Bangis. Oleh karena nama sungai Sikarbou masih eksis, maka nama sungai Air Bangis merujuk pada sungai baru yang terbentuk (yang awalnya rawa-rawa) sebagai cabang dari sungai Sikarbou di sebelh hulu dekat dengan kampong Oedjoeng Gading. Dalam hal ini nama tempat dan nama sungai Air Bangis adalah nama baru. Sedangkan kampong Odjoeng Gading (awalnya) di muara sungai Sikarbou (sebelum terbentuk pulau Babi).. Nama kampong Oedjoeng Gading diduga telah berumur setua kampong Batahan. Kampong Batahan dan kampong Oedjoeng Gading adalah kampong-kampong yang dihuni oleh penduduk Mandailing. Sungai Batahan dan sungai Sikarbou berhulu di gunung Malintang (Mandailing).
![]() |
| Pulau Sicanang di Deli tempo doeloe (Peta 1657) dan Now |
Pulau Babi terbentuk pada awalnya adalah dua pulau kecil dimana di dua pulau kecil tersebut masing-masing dapat kini dilihat keberadaan (daratab) bukit Pintjoeran dan gunung Djawi-Djawi. Pulau Babi yang terbentuk dari basis bukit dabn gunung tersebut karena proses sedimentasi, lambat laut Pulau Babi semakin membengkak karena proses sedimentasi yang berkelanjutan dan mulai memenuhi seluruh teluk (antara pulau dan muara sungai Sikarbou di Odjoeng Gading). Akhirnya sulit membedakan pulau (Pulau Babi) yang sudah menyatu menjadi daratan yang dibatasi aliran sungai nama pulau Babi di Air Bangis menghilang dalam sejarah. Di teluk Belawan tempo doeloe terdapat suatu pulau. Teluk ini adalah muara sungai Hamparan Perak dan sungai Deli. Pulau kecil di tengah teluk ini disebut Pulau Sicanang. Namun karena proses sedimentasi yang berkelanjutan berabad-abad pulau Sicanang semakin membengkak dan memenuhi seluruh teluk. Pulau ini sulit dibedakan sebagai pulau karena kini hanya dikelilingi oleh sungai Hamparan Perak (sungai Belawan) dan sungai Deli. Meski demikian, nama area tersebut di sebut Pulau Sicanang (karena begitulah namanya sejak lampau). Nama area disebut Pulau Sicanang dipertahankan penduduk, namun nama Pulau Babi dilupakan di Air Bangis.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Populasi Mandailing: Oedjoeng Gading, Tjoebadak, Simpang Tonang, Sungai Aur, Rabi Djonggor, Batahan dan Parit
Kota Oedjoeng Gading dan kota Air Bangis adalah dua kota yang bertetangga di daerah aliran sungai Batang Sikarbou/sungai Air Bangis. Kota Oedjoeng Gading berada di hulu (muara sungai Sikarbou tempo doeloe) dan kota Air Bangis berada di hilir (muara sungai Air Bangis). Sungai Air Bangis adalah cabang sungai Sikarbou di hilir. Sungai Sikarbou berhulu di gunung Malintang (Mandailing).
![]() |
| Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1916 |
Pada tahun 1930 (sensus penduduk 1930) berapa jumlah penduduk kota Air Bangis dan beraapa jumlah penduduk kota Oedjoeng Gading tidak diketahui secara pasti. Hal ini karena penduduk dua kota ini tidak tersajai secara spesifik. Data yang dipublikasikan adalah data penduduk seluruh Onderafdeeling Ophir (mengacu pada pembentukan onderafdeeling Ophir sesuai Staatblads No. 162 tahun 1929).
![]() |
| Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1939 |
Namun demikian, secara kualitatif disebutkan bahwa nagari-nagari Tjoebadak, Simpang Tonang, Soengai Aoer, Oedjoeng Gading, Rabi Djonggor, Batahan dan Parit sepenuhnya adalah orang Mandailing (lihat Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1939).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com













Tidak ada komentar:
Posting Komentar