Sejarah Air Bangis (19): Sejarah Gunung Ophir, Diukur Tahun 1838; Berita Gunung Talamau Pasaman Meletus 1869 dan 1892
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini
Nama Ophir sudah lama dikenal di Eropa. Namun penduduk lokal menyebutnya dengan nama gunung Pasaman. Orang Belanda di era VOC menyebut gunung Pasaman adalah gunung Ophir. Untuk menghindari sebutan lokal, orang Belanda mengidentifikasi puncak tertinggi gunung Pasaman sebagai gunung Ophir. Puncak tertinggi gunung Pasaman (yang disebut Ophir) ini diukur kali pertama tahun 1838 oleh dua orang Jerman. Gunung Ophir-Pasaman adalah gunung pertama yang ada di Indonesia yang diukur ketinggiannya.
![]() |
| Gunung Ophir, Pasaman (lukisan 1876) |
Lantas apakah gunung Ophir-Pasaman berapi? Kapan gunung Ophir-Pasaman meletus? Keterangan gunung Ophir-Pasaman kurang terinformasikan. Namun demikian gunung Pasaman atau gunung Ophir atau gunung Talamau haruslah tetap diwaspadai. Seab bisa sewaktu-waktu meletus atau menimbulkan gempa yang merugikan. Namun tidak perlu khawatur, tingkat kewaspadaan yang diperlukan. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Lembah Ophir di Taloe, 1890 |
Gunung Ophir, Pasaman dan Talamau
Mengapa gunung Ophir terkenal? Menurut persepsi orang Eropa paling tinggi di Hindia. Ini dapat dibaca pada pandangan seorang penulis yang dimuat pada Letterkundig magazijn van wetenschap, kunst en smaak, 1818 No 14: ‘Di Sumatra, tepat di bawah garis khatulistiwa, gunung Ophir terkenal yang tinggi sekitar 12,000 kaki, tinggi, hampir setinggi gunung-gunung Eropa yang tinggi’. Mengapa gambaran seperti ini yang muncul?

Nama gunung Ophir kadung sudah terkenal di Eropa dan bahkan ada anggapan bahwa gunung Ophir adalah tertinggi di Hindia. Informasi ini tampaknya memancing minat dua orang Jerman untuk mengukur (lihat Leydse courant, 19-11-1838). Disebutkan Mr. Horner dan Krusenstern mengukur ketinggian gunung Pasaman (Ophir) dan puncak tertinggi 2.927 M yang disebut Talamau. Kisah Horner ini juga dapat dibaca pada Tijdschrift voor Neerland's Indie jrg 2, 1839:

Pada intintinya Horner ditemani oleh dua orang Eropa dan enam laki-laki. Lalu bermalam di suatu rumah penduduk. Esoknya pukul setengah delapan (tanggal 31 Mei) berangkat lagi yang diikuti oleh hampir 100 pria yang ikut serta. Lalu bermalam di hutan. Pada pagi hari mulai melakukan perjalan pada tanggal 32 Mei. Bermalam lagi di ketinggian yang berlumut dan dingin. Hari berikutnya tanggal 33 Mei, Bermalam lagi. Kemudian dilanjutkan pada pagi tanggal 34 Mei. Kami bisa melihat lembah Bondjol dan Rao. Pukul 4 sore kami telah mencapai puncak tertinggi, Termometer menunjukkan 708 R. Ketinggi 2.927 meter. Sejauh ini Ophir telah dianggap jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Esoknya kami tetap di atas sampai tengah hari, berharap sinar matahari akan mengusir awan. Ada beberap kawaha yang yang sudah berisi air. Bekas aliran lava dimana-mana, tidak ditemukan baru apung. Saya menemukan kerangka Siamang, Tampaknya dia mendahului saya, tetapi tidak jelas apa yang menjadi tujuannya naik hingga ke puncak gunung ini. Melihat kerangkanya yang tidak rusak, kecil kemungkinan dibawah burung pemangsa. Kemungkinan dia melakukan pengasingan kesini, karena Siamang hanya kami dengar suaranya pada ketinggian 5000 kaki di bawah sana.
Setelah saya meninggalkan botol kosong dengan kertas di dalamnya dengan tanggal dan semua nama pendaki Ophirs yang sampai di puncak tertinggi, saya memerintahkan semua untuk turun kembali. Kami bermalam. Keesekan harinya tanggal 35 Mei kami melajutkan penurunan dan pukul tiga sore kami tiba di kampong Sawa lagi. Pada pagi hari tanggal 36 Mei pukul delapan saya sudah menuju Parit Batoe dan tiba bukul 11 di Parit Batoe.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Letusan dan Gempa Gunung Talamau di Pasaman
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar