Sejarah Pulau Bali (5): Dimana Origin Kota Denpasar? Penghancuran Puri Badung 1906 dan Membangun Baru Kota Denpasar, 1908
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bali pada blog ini Klik Disini
Kota Denpasar dibangun pada atas ratapan tangis
![]() |
| Denpasar (Peta 1906) |
Lantas mengapa Pemerintah Hindia Belanda kemudian memilih ibu kota di Badoeng dan kota Denpasar. Dimana posisi GPS kota Denpasar bermula? Mungkin pertanyaan ini terkesan sepele dan tidak penting-penting amat. Hal ini karena sudah cukup dengan mengenal (pantai) Kuta dan Sanur. Namun ketika sudah mengenal bagaimana keramaian pantai-pantai ini Anda akan mundur ke belakang. Dimana keramaian ini bermula? Saat inilah Anda memutar jarum jam ke masa lampau sambil bertanya dimana area kota Denpasar yang sekarang bermula. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Wilayah Kerajaan Badoeng (Peta 1883) |
Kota Denpasar Lama
Pada saat terjadi ekspedisi militer pada tahun 1906, surat kabar Telegraaf menyebutkan Angkatan Laut telah membakar (kota) Den Passar. Ibu kota (hoofdplaats) kerajaan Badoeng terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh sungai Badoeng: Pametjoetan dan Den Passar. Ibu kota ini memiliki penduduk sekitar 2,000 jiwa. Poeri (sterkte) di Den Passar, kediaman kepala pangeran Badoeng adalah sebuah bangunan kolosal dengan panjang sekitar 200 meter dan lebar 175 meter dan dikelilingi oleh tembok batu besar setinggi sekitar 4 meter dan tebal 1.5 meter. Puri kepala pangeran Badoeng di Denpasar dalam hal ini dapat dikatakan sebagai pusat kota (ibu kota) Kerajaan Badoeng.
Puri Badoeng di Denpasar ini cukup luas dan dipagari oleh tembok tebal. Puri (istana) ini tentu saja sudah hancur lebur. Berdasarkan Peta 1906, puri Denpasar ini pada masa kini terletak di sudut jalan Puputan dan jalan DI Panjaitan, Situs terdekat dari situs lama ini (puri) pada masa sekarang adalah Monumen Bajra Sandhi (Renon).
![]() |
| Eks area Puri Kerajaan Badung di Denpasar (Now) |
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kota Denpasar Baru
Setelah penaklukan Kerajaan Badoeng, Tabanan dan Kloekoeng pada tahun 1906, Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk cabang pemerintahan di eks kerajaan-kerajaan di Bali (Selatan). Pengadministrasian wilayah dimulai dengan membentuk afdeeling yang baru (sementara) yang disebut Afdeeling Zuid Bali. Afdeeling yang sudah lama terbentuk adalah Afdeeling Boeleleng dan Afdeeling Djembrana. Afdeeling baru ini disatukan dengan Residen Bali en Lombok (ibu kota Residentei tetap berada di Singaradja, Afdeeling Boeleleng). Catatan: di pulau Lombok hanya satu afdeeling (Afdeeling Lombok). Wilayah afdeeling pada masa ini setara dengan kabupaten.
![]() |
| District Denpasar (Peta 1909); Kab Badung, Kota Denpasar (Now) |
Penetapan District Denpasar sebagai ibu kota Afdeeling Zuid Bali menjadi prakondisi terbentuknya kota Denpasar yang baru. Asisten Residen ditempatkan di Denpasar. Penempatan Asisten Residen ini bersamaan dengan ekspedisi 1906. Asisten Residen akan memimpin penataan kota-kota di Afdeeling Zuid Bali dan secara khusus di district Denpasar sebagai ibu kota akan mendapat anggaran yang lebih besar. Anggaran pusat juga akan menambah bangunan-bangunan fisik di kota Denpasar dalam hubungannya penempatan pejabat dari bidang (kementerian) tertentu di daerah seperti kesehatan, PU, pendidikan, justitie dan sebagainya. Dimana kantor Asisten Residen dibangun?
![]() |
| Singaradja (ibu kota Residentie), Denpasar (ibu kota afd.) Peta 1909 |
Kenyataan yang terjadi kantor Asisten Residen dibangun di eks area puri. Ini berarti ibu kota Denpasar yang baru dibangun kembali di eks puri yang dihancurkan militer sebelumnya. Mengapa? Padahal pola ini tidak lazim sejak era VOC. Apakah Pemerintah Hindia Belanda menganggap area (eks) puri sebagai pampasan perang? Boleh jadi. Sudah barang tentu akuisisi area (eks) puri ini dimasukkan dalam perjanjian (placaat).
![]() |
| Tata kota Denpasar (Peta 1915) |
Tunggu deskripsi lengkapnya
Perkembangan Kota Denpasar Selanjutnya
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com










Tidak ada komentar:
Posting Komentar