Sejarah Lombok (26): Dari Kuta ke Kuta, dari Bali ke Lombok dan dari Lombok ke Bali; Destinasi Pariwisata di Tanah Sasak
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini
Kuta di Bali, jua terdapat Kuta pada Lombok. Kuta dalam Bali telah lebih dulu dikenal
![]() |
| Kampong Koeta di Lombok (Peta 1927) |
Lantas mana yang duluan eksis, Kuta di Bali atau Kuta di Lombok? Yang jelas, kini wilayah selatan pulau Lombok sedang berkembang sebagai destinasi pariwisata. Satu tempat yang penting di selatan pulau Lombok ini adalah Kuta. Destinasi pariwisata Kuta ini akan saling memperkuat dengan rencana pembangunan sirkuit MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika. Okelah, untuk menambah pengetahuan tentang sejarah Kuta di Lombok dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Desa Kuta di Lombok (Now) |
Nama Kuta di Bali dan Lombok
Nama kampong Kuta di Bali sudah diidentifikasi pada Peta 1906. Tentu saja kampong Kuta belum menjadi destinasi pariwisata. Kampong Kuta hanyalah kampong kecil dimana para nelayan-nelayan Bugis dan Mandar berlabuh untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka di laut. Orang Bali dan orang Lombok bukan pelaut.
![]() |
| Kampong Koeta di Bali (Peta 1906) |
Berdasarkan Peta 1908, di pantai selatan Lombok belum teridentifikasi nama Koeta. Pada peta ini baru sekadar identifikasi teluk Ajang. Berbeda dengan pantai selatan Bali, wilayah pantai selatan Lombok bertopografi pegunungan. Populasi padat penduduk Sasak berada di bagian tengah pulau dari barat hingga ke timur. Nama kampong Koeta di Lombok baru diidentifikasi pada Peta 1927. Gambaran tentang pantai selatan Lombok dideskripsikan oleh Heinrich Zollinger pada tahun 1847.
![]() |
| Pantai selatan Lombok (Peta 1908) |
Berdasarkan deskripsi Heinrich Zollinger dapat dipahami mengapa pantai selatan Lombok kuran berkembang jika dibandingkan pantai selatan Bali yang justru sebaliknya cenderung datar. Tentu saja di pantai selatan Lombok jarang penduduk Sasak, Besar dugaan perkampongan yang terbentuk di pantai selatan Lombok dihuni oleh para pendatang apakah untuk tujuan menangkap ikan atau mengumpulkan hasil-hasil hutan untuk perdagangan seperti kayu dan satwa liar. Berdasarkan epistemologi nama koeta, kampong Koeta baik di Bali maupun Lombok diduga kuat terbentuk oleh para pendatang. Nama kota, kuta atau huta bersifat generik yang mana bahasa Melajoe sebagai lingua franca (bahasa yang juga digunakan dalam navigasi).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kuta Bali Menjadi Destinasi Pariwisata
Orang Eropa pertama tinggal di Koeta, Bali adalah Hans Lange. Pedagang Denmark ini harus menyingkir ke Koeta, wilayah terpencil di selatan Bali. Itu terjadi pada tahun 1838 ketika terjadi perang saudara sesama Bali di Lombok antara kerajaan Mataram dan kerajaan Karangasem. Lange bersaudara yang berkongsi dengan radja Karangasem membangun pos perdagangan di pelabuhan Tandjoeng Karang, sementara GP King pedagang asal Inggris membuka pos pedagangan di pelabuhan Ampenan.
Dalam perang tersebut, Radja Mataram terbunuh, tetapi pasukan kerajaan Karangasem kalah. Kraton kerajaan Karangase hancur, Radja Karangasem dan keluarga termasuk istri-istri dan anak-anak mereka melakukan membakar diri. Sejak itulah pangeran (radja) Mataram menjadi penguasa tunggal di Lombok. Saat GP King berada di atas angin, Hans Lange dan keluarga menyingkir ke Koeta, Bali.
Tentu saja usaha Lange dan keluarga tidak berkembang di Koeta. Hal ini karena tempatnya sangat terpencil. Lagi pula pusat perdagangan berada di Sanoer yang sudah dihuni oleh orang-orang Cina (kongsi dengan Radja Badoeng). Tidak diketahui kabar selanjutnya usaha Lange di Koeta.
Pada tahun 1840 Pemerintah Hindia Belanda dikabarkan akan membuka pos perdagangan di Bali (lihat Algemeen Handelsblad, 20-03-1840). Pos perdagangan ini kemudian diketahui berada di Koeta, Badoeng (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 12-07-1844). Namun tidak lama kemudian muncul persoalan tentang Tawan Karang di Bali. Pemerintah Hindia Belanda menuntut pangeran Boeleleng namun tidak digubris. Lalu pada tahun 1946 Pemerintah Hindia Belanda mengirim ekspedisi ke Boeleleng. Perlawanan Boeleleng yang dibantu kerajaan Karangasem ini baru berakhir tahun 1849. Sejak itu pos perdagangan Pemerintah Hindia Belanda dipindahkan ke Boeleleng sehubungan dengan pembentukan cabang pemerintahan Residentie Bali en Lombok yang ber ibu kota di Boeleleng. Dalam penaklukkan Boeleleng dan Karangasem ini turut dibantu radja Bali Selaparang di Lombok.
Kampong Koeta kembali sunyi sendiri. Kampong Koeta, kampong nelayan tetap menjadi kampong nelayan. Situasi di Koeta berubah setelah terjadinya ekspedisi militer Pemerintah Hindia Belanda di pantai selatan Bali (kerajaan Badoeng) pada tahun 1906.
Pada perang 1906 kota Denpasar hancur, rata dengan tanah termasuk puri dari Radja Badoeng. Pasca perang, kota Denpasar kembali dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini sehubungan dengan pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908 membentuk afdeeling Zuid Bali dengan menempatkan seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Ini dengan sendirinnya Denpasar menjadi ibu kota dan pebangunan kota diulai.
Pada tahap pertumbuhan kota Denpasar dan perkembangan pemerintahan di wilayah pantai selatan Bali, arus orang Eropa secara perlahan meningkat. Para pejabat-pejabat Belanda terus bertambah yang ditempatkan di Denpasar. Ketika mulai meningkatnya populasi orang Eropa di Denpasar dan sekitarnya, seorang Meksiko yang lama tinggal di Amerika Serikat José Miguel Covarrubias melakukan petualangan dan berakhir di Bali. José Miguel Covarrubias kembali ke Bali bersama istrinya. Covarrubias adalah seorang pelukis profesional dan istrinya seorang fotografer.
![]() |
| De Maasbode, 20-10-1937 |
Pada tahun 1937 buku José Miguel Covarrubias terbit dengan judul Island of Bali. Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris setebal 417 halaman yang diterbitkan sebuah penerbit di New York (Alfred A. Knopf). Buku ini dilengkapi oleh foto-foto hasil pemotretan yang dilakukan oleh istrinya Rose Covarrubias. Buku ini tentu saja beredar luas karena ditulis dalam bahasa Inggris. Pembaca orang-orang Belanda molohok.
Sebenarnya tidak hanya José Miguel Covarrubias di Bali. Seorang pelukis Jerman Walter Spies telah bekerja di Bali selama bertahun-tahun. Pekerjaan Walter Spies telah memberi pengaruh besar pada seniman Bali seperti I Sobrat. Publikasi José Miguel Covarrubias yang menbedakan diantara keduanya. Walter Spies adalah orang Eropa pertama yang tiba di Bali 1920 yang secara sadar bekerja untuk seni Bali. José Miguel Covarrubias melengakapinya.
Tulisan-tulisan berbahasa Belanda selama ini kurang memperhatikan soal seni orang Bali dan lebih banyak berbicara tentang kisah para pelancong, perkembangan pemerintahan dan hal-hal yang terkait perdagangan. José Miguel Covarrubias berhasil memancing minat pembaca tentang pantai di Koeta, pantai di Sanoer dan tentang orang Bali sendiri yang artistik.
Sejak buku José Miguel Covarrubias ini beredar, pelancong-pelancong Belanda sendiri mulai menambah daftar destinasi mereka. Tida hanya, Batavia, Buitenzorg, Soerakarta, Djogjakarta tetapi juga pulau Bali. Saat itu berbagai kota di Hindia Belanda sedang giat-giatnya mempromosikan kota dan wilayahnya untuk dikunjungi para wisatawan. Buku José Miguel Covarrubias tampaknya promosi gratis dari pemerintah daerah Hindia Belanda di Residentie Bali en Lombok (yang ber ibu kota di Boeleleng) khususnya pemerintah daerah di Afdeeling Zuid Bali.
Uniknya ketertarikan para pembaca tersebut justru lebih banyak dari orang-orang non Belanda terutama yang berbahasa Inggris (Anglo-saxon). Orang-orang Belanda tampanya nyinyir terhadap kehadiran buku ini. Mereka mengkritik buku ini ditulis dalam bahasa Inggris. Boleh jadi karena hanya sebagian kecil orang Belanda yang berbicara bahasa Inggris. Tentu saja orang Belanda tidak terlalu menginginkan Bali yang dipromosikan, karena orang Bali sejatinya sangat tidak senang orang Belanda, lebih-lebih setelah intervensi militer Belanda di Noor Bali (1846-1849), di Lombok (1894-96) dan di Zuid Bali (1906-1908). Oleh karenanya bagi pelancong Belanda, buku José Miguel Covarrubias seakan-akan ditujukan kepada orang-orang non Belanda.
José Miguel Covarrubias dapat dikatakan sebagai orang pertama yang mempromosikan Bali ke daftar destinasi para pelancong dunia. Di antara pers Belanda baik di Hindia maupun Belanda mulai muncul pro kontra. José Miguel Covarrubias telah mengabil peran yang seharusnya menjadi tugas dan tanggungjawab orang Belanda.
Tidak lama setelah buku José Miguel Covarrubias beredar dan menjadi viral di surat-surat kabar yang terbit di Belanda dan di Hindia Belanda, Pemerintah Hindia Belanda mendukung suatu konsorsium untuk menyelenggarakan sutau pameran dan diskusi tentang Bali di Museum Simpang, Soerabaja. Program ini dimulai tanggal 29 September yang mana pameran ini dapat dikunjungi oleh semua orang di museum secara reguler yaitu, dari pukul setengah delapan pagi sampai setengah satu siang dan 4-6 di sore hari (lihat De Indische courant, 29-09-1938).
![]() |
| De Indische courant, 29-09-1938 |
Pegiat pariwisata dan pemerintah akan diuntungkan dengan program baru ini karena akan menambah devisa karena kunjungan wisata mancanegara. Program ini menjadi prakondisi untuk memarakkan tahun-tahun awal kunjungan wisata ke Bali (domestik) sebelum wisatawan mancanegara berdatangan (internasional).
Seperti kota-kota besar lainnya, sebelumnya pegiat pariwista kota Soerabaja sudah menginisiasi destinasi wisata seperti ke Dieng, Batoe dan sebagainya. Program Bali bagi pegiat pariwisata di Soerabaja akan mendapat keuntungan dari destinasi baru ke Bali. Kota Semarang sudah lama menginisasi destinasi wisata ke Soerakarta dan Djogjakarta; Bahkan kota Batavia sudah lebih awal dengan destinasi wisata ke Buitenzorg, Soekaboemi dan Bandoeng sehubungan dengan dibukanya jalur kereta api dari Batavia ke Bandoeng pada tahu 1883. Di Sumatra, pegiatan pariwisata yang intens mempromosikan destinasi wisata adalah kota Medan dengan mengandalkan Brastagi dan Parapat (danau Toba).
Dalam hal ini, pengembangan destinasi pariwisata ke (pulau) Bali diinisiasi oleh para pegiat pariwisata di Soerabaja. Sudah barang tentu, José Miguel Covarrubias memiliki andil besar dalam upaya memperkenalkan wisata Bali. Tentu saja yang tidak boleh juga dilupakan adalah Walter Spies. Sebagaimana kita lihat nanti pegiat pariwisata di Bali (Denpasar, Kuta dan Sanur) akan dengan sendirinya menginisasi destinasi pariwisata ke Lombok, selain Senggigi dan tentu saja kemudian menyusul ke Kuta Lombok.
Inisiasi pengembangan destinasi pariwisata di Hindia Belanda sudah pernah dilakukan melalui media tulisan termasuk brosur yang diedarkan ke manca negara. Salah satu bentuk inisiasi tersebut adalah penerbitan buku berbahasa Belanda yang ditulis oleh EW Viruly yang diterbitkan penerbit De Bussy pada tahun 1923 dengan judul ‘Met de camera door Nederlandsch-Indie’. Buku ini tebalnya 413 halaman yang disertai dengan foto-foto (sesuai judulnya camera). Buku ini terdiri dari 20 bab termasuk Bali dan Lombok sebagai berikut: 1. Bij de Bataks; 2. Naar het Laut-Tawar in de Gajolanden; 3. Van Medan naar Padang; 4. In de Padangsche Bovenlanden; 5. Op de Pagai en Mentawei eilanden; 6. Poeloe Tello; 7. Van Benkoelen naar Palembang; 8. Van Moeara Enim naar Telok Betong; 9. Een paar tochten in West-Java; 10. Iets over de Preanger; 11. In Djocja; 12. Over tempels en nog wat in Midden-Java; 13. In het gebied van Tengger en Smeroe; 14. In den Oosthoek; 15. Om en bij Soerabaja; 16. Een Molukkenreis; 17. Bali; 18. Op Lombok; 19. Naar de Kratermeren van den Keli Moetoe op Flores; 20. Op Timor.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kuta Lombok Menjadi Destinasi Pariwista Baru
Kuta Lombok belum lama menjadi destinasi pariwisata. Tujuan wisatawan ke (pulau) Lombok umumnya ke Senggigi plus gili Trawangan, Para wisatawan asing umumnya datang ke Senggigi setelah dari Bali (Kuta atau Sanur). Ada pelayaran reguler dari pelabuhan Padang Bai Bali ke pelabuhan Lembar di Lombok (dan sebaliknya). Dengan kapal cepat tidak terlalu lama di tengah laut,
Saya masih ingat betul pada tahun 1991, saya pernah ke Sembalun Lawang untuk menemui tim survei saya, menginap di pesanggrahan yang pada malam hari sangat dingin. Ada juga satu dua wisatawan asing yang datang saya temui di punggung gunung Randjani tersebut. Saya sedikit heran mengapa mereka datang ke tempat yang terpencil itu. Saya coba menanyakan dan mereka menjawab ingin melihat danau. Setelah usai survei, anggota tim saya mengajak wisata ke Senggigi dan juga ke gili Trawangan. Tentu saja banyak wisatawan asing karena sudah ada hotel di Senggigi.
Menjelang kepulangan saya ke Jakarta, salah satu anggota tim saya yang berasal dari Praya memancing minat saya. ‘Apa tidak ke Kuta melihat keindahan alam dulu sebelum pulang?’. Saya tidak terlalu tertarik, karena dalam pikiran ingin pulan karena sudah seratus hari di Lombok. Tapi teman itu terus menggoda. ‘Nanti nyesal lho tidak kesana?’. Saya baru menyadari jika teman itu mengajak serius. Lalu saya bertanya. ‘Memang, seperti apa di sana?; ‘Pasirnya sangat alami’ jawab teman itu. Saya semakin tertarik. ‘Bagaaimana kita ke sana?’. ‘Hanya bisa naik motor’ jawabnya. Keesokan harinya saya sewa motor dan kemudian menjemputnya di tempat yang dijanjikan. Kami berangkat dengan motor Honda Astrea.
Sesampai di Kuta, kami menyusuri pantai. Pasir pantainya sangat khas, sudah barang tentu karena pengaruh laut selatan. Airnya sangat bersih dan sehat. Masih sepi dan saya tidak menemukan wisatawan asing. View terbaik bukan di pantai tetapi di atas dari arah kami datang. Di area pantai, di sana sini terdapat beberapa sampah, tapi bukan limbah seperti plastik atau buangan rumahtangga tetapi ranting-ranting pohon atau semak yang terbawa arus ombak ke pantai.
Itulah kunjungan saya yang pertama ke Kuta dan juga yang terakhir, Meski masih ada beberapa kali bertugas ke Lombok pada tahun-tahun berikutnya tetapi tidak ke Kuta lagi. Tentu saja Kuta kini sudah sangat jauh berubah. Tidak lagi sepi seperti dulu, sudah jauh berkembang. Melihat peta satelit, Kuta telah bertransforasi mengejar Kuta Bali. Saat menulis artikel ini saya kembali melihat Kuta melalui peta satelit.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com










Tidak ada komentar:
Posting Komentar