Sejarah Lombok (25): Pelabuhan Lembar, Tempo Doeloe Namanya Laboehan Tring; Kini, Pelabuhan Terbesar di Pulau Lombok
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Lombok pada blog ini Klik Disini
Dalam penulisan sejarah (pelabuhan) Lembar di (pulau) Lombok adakalanya ditulis kurang seksama dan justru menciptakan resah, misal ?Awalnya pelabuhan Lembar ini berada pada Ampenan? (lihat Wikipedia) dan ?Lembar, pelabuhan tertua dalam Nusantara (lihat Tempo.Co). Sebaiknya penulisan dibentuk sebagai: ?Awalnya pelabuhan Lombok dalam Ampenan, kemudian dipindahkan ke Lembar?
![]() |
| Laboehan Tring (Peta 1850) |
Lantas bagaimana sejarah Pelabuhan Lembar? Nah, itu dia. Yang jelas tempo doeloe di area pelabuhan Lembar yang sekarang, pelabuhan terkenal adalah Laboehan Tring. Suatu pelabuhan yang ditempati orang-orang Bugis. Baru pada era Republik Indonesia, Lamboehan Tring yang telah bermetamorfosi menjadi Pelabuhan Lembar ditingkatkan menjadi pelabuhan utama di Lombok (untuk menggantikan pelabuhan Ampenan). Okelah. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Pelabuhan Lembar (Now) |
Sejarah Awal Pelabuhan di Lombok
Departemen Koloni di Belanda menerima telegram dari Gubernur Jenderal kemarin, 14 Oktober 1894. Pada paragraf pertama isi telegram tersebut berbunyi sebagai berikut: ‘Pendudukan Mataram, termasuk bagian utara, terus berlanjut, tanpa perlawanan. Dua ratus orang Bali, termasuk wanita dan anak-anak, menyerahkan diri dengan selusin pemimpin. Mereka dilucuti dan dikirim ke Lembar di teluk Laboean Tring. Diantara mereka yang terluka pada umumnya tidak terlalu menkhawatirkan’ (lihat De standaard, 16-10-1894). Berita ini merupakan informasi yang pertama tentang keberadaan (kampong) Lembar sejak Heinrich Zollinger pada tahun 1847 berkunjung ke teluk ini.
Ekspedisi militer Pemerintah Hindia Belanda di Lombok dimulai 5 Juli 1894 di pelabuhan Ampenan. Penduduk Bali yang tidak ingin berperang menyerahkan diri. Mereka inilah yang kemudian di evakuasi ke kampong Lembar di teluk Laboehan Tring. Lembar menjadi kamp untuk penduduk Bali di Lombok selama berlangsungnya perang. Sementara sebagain kapal-kapal Pemerintah Hindia Belanda yang sudah melaksanakan tugas mengambil posisi aman untuk parkir di teluk Laboehan Tring.
Dalam laporan Heinrich Zollinger tidak menyebutkan nama Lembar ketika membandingkan sejumlah pelabuhan penting di pantai-pantai Lombok. Heinrich Zollinger hanya mengidentifikasi pelabuhan Laboehan Hadji di teluk yang sama namanya, suatu pelabuhan yang tenang tetapi daratan di pantai tidak sehat. Ada tiga perkampongan di LaboehanTring yakni perkampongan yang dihuni orang-orang Bugis, Sasak dan Bali.
![]() |
| Teluk Laboehan Tring (peta Cornelis de Houtan, 1597) |
Deskripsi Heinrich Zollinger tentang Laboehan Tring terbilang cukup lengkap. Sebagai suatu pelabuhan sangat sesuai untuk navigasi dan semua yang dibutuhkan tersedia, seperti air segar kayu dan bahan-bahan lainbya. Namun, sayangnya seperti disebut Heinrich Zollinger areanya terbilang kurang sehat untuk para pendatang. Oleh karena Heinrich Zollinger hanya mendeskripsikan tentang pelabuhan (Laboehan Tring), tidak mencatat keberadaan nama kampong Lembar.
Teluk yang disebut teluk Laboehan Tring dari tempo doeloe sudah kerap dikunjungi oleh kapal-kapal Belanda. Paling tidak hal ini dapat diperhatikan peta yang dibuat pada tahun 1720. Dalam peta ini teluk (yang kelak disebut teluk Laboehan Tring) telah didentifikasi perihal navigasi tentang hasil pengukuran kedalaman laut di teluk. Kedalaman laut yang dicatat dalam peta dekat pantai sedala 20 meter. Pencatatan kedalaman laut di teluk tidak terlalu beberda dengan hasil pencatatan yang dilakukan seabda sebelumnya yang dilakukan oleh ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1597.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Lamboehan Tring dan Lembar (Pelabuhan Lembar)
Seperti diberitakan pada tahun 1894 yang menjadi kamp orang Bali (dalam Perang Lombok) besar kemungkinan kampong Lembar telah berkembang, paling tidak menjadi nama kampong yang penting. Nama kampong Laboehan Tring tampaknya sudah meredup, yang menjadi populer adalah kampong Lembar. Dalam peta tahun 1908 nama kampong Laboehan Tring tetap menjadi nama teluk, sedangkan penanda geografis nama kampong Laboehan Tring diidentifikasi dengan nama Telokwaroe. Kampong Laboehan Tring/Telokwaroe masih tampak lebih penting/lebih besar dari kampong Lembar.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar