Sejarah Bogor (57): Alun-Alun Kota Bogor di Tiga Lokasi; Pindah ke Empang dan Kini Dibangun di Taman Ade Suryani Nasution
*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
Alun-alun kota umumnya nir berubah sepanjang saat. Lantas apakah terdapat aloon-aloon Kota Bogor? Ada. Akan namun kurang terinformasikan. Bahkan bila dihitung masa sekarang, saat Kota Bogor membentuk alun-alun kota, sesungguhnya pembangunan alun-alun kota yang baru ini adalah relokasi yg kedua kali. Apa sebab sesungguhnya yang terjadi? Banyak kepentingan. Relokasi yg pertama dari tengah kota ke pinggiran pada Empang buat mengusir penduduk pribumi berdasarkan tengah kota. Relokasi yg ke 2 (sekarang ) pulang ke tengah kota. Tidak pada rangka mengusir rakyat kota, tetapi wajib menggusur Taman Ade Irma Suryani Nasution & patung Capt Muslihat.
![]() |
| Aloon-Aloon kota Buitenzorg (Peta 1880) |
Mengapa begitu penting keberadaan alun-alun kota? Banyak kegunaan. Kegunaan yang pertama adalah mempercantik ruang spasial kota. Kedua, untuk dijadikan ruang sosial warga kota. Ketiga, untuk dijadikan tempat monumen tertentu (biasanya monumen yang terkait perjuangan bangsa). Lantas seperti apa alun-alun kota Bogor terdahulu? Nah, itu dia. Itu penting karena dapat dibandingkan dengan alun-alun Kota Bagor yang baru. Untuk menambah pengetahuan dan untuk meningkatkan wawasan sejarah nasional Indonesia, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Aloon-Aloon Hoofdplaats Buitenzorg
Dimana letak aloon-aloon kota Bogor yang pertama, tidak ada yang pernah menulisnya. Juga dimana lokasi aloen-aloen kota Bogor yang kedua tidak ada yang menulisnya. Oleh karena itu, ketika Pemerintah Kota Bogor yang sekarang ingin membangun Alun-Alun Kota, seakan hal itu baru. Padahal kota Bogor di masa lampau sama dengan kota-kota lain yang juga memiliki alun-alun kota. Alun-alun kota adalah penanda navigasi suatu kota (mengikuti model kota-kota di Eropa-Belanda). Alun-alun kota Bogor adalah salah satu dari dua kota pertama di Hindia Belanda yang memiliki alun-alun (tentu saja kraton Djogdjakarta memiliki aloon-aloon tersendiri)..
Pada era VOC, alun-alun kota Batavia berada di sisi timur benteng Kasteel Batavia. Alun-alun ini disebut Koningsplein. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) ketika membangun ibu kota baru di Weltereden, secara sadar membeli lahan di Risjwijk untuk menyediakan ruang spasial untuk dibangun alun-alun kota. Alun-alun ini juga disebut Koningsplein (kini area Monas). Gubernur Jenderal Daendels juga membangun alun-alun di kota Buitenzorg.
Dimana letak aloon-aloon kota Bogor yang pertama sebagaimana direncanakan oleh Gubernur Jenderal Daendels? Letaknya berada di arah barat daya kantor-gedung Asisten Residen Buitenzorg. Alun-alun ini berada di kampong Gedong Sawah. Kantor Asisten Residen Buitenzorg berada di depan villa-istana Buitenzorg. Gedung Asisten Residen Buitenzorg ini masih eksis hingga ini hari di dekat Hotel Salak Bogor. Kantor Asisten Residen dengan bangunan Hotel Salak dipisahkan oleh jalan Gedong Sawah yang sekarang.
Pada era VOC jalan utama adalah jalan Sudirman yang sekarang, mulai dari jembatan Kedong Badak (kini jembatan Warung Jambu) terus ke Pilar (kini Air Mancur) terus ke depan villa-istana (kini jalan Sudirman) lalu berbelok ke arah kantor pos yang sekarang dan kemudian lurus ke kampong Babakan Pasar (jalan ini kini berada di dalam kebun raya yang sekarang). Jalan lurus ke arah timur ke Babakan Pasar ini bersambung jalan lurus ke arah barat ke Tjiomas (Goenoeng Batoe) yang kini disebut jalan Kapten Muslihat. Jalan Gedong Sawah sendiri yang tersambung dengan jalan Abesin yang sekarang adalah jalan kampong yang dilalui oleh pedati dari Kedong Badak ke Pasar (di Babakan Pasar).
Aloon-aloon kota Buitenzorg ini cukup luas saat itu. Kini luasnya sekitar area antara jalan Gedong Sawah, jalan Juaanda, jalan Kapten Muslihat, jalan Dewi Sartika, jalan Pengadilan dan bertemu lagi jalan Gedong Sawah. Namun dalam perkembangannya aloon-aloon kota Buitenzorg ini lambat laun berkurang, apakah dijual atau disewakan, sehubungan dengan munculnya sejumlah bangunan baru. Bangun yang pertama muncul adalah pembangunan hotel di depan istana (Logement Buitenzorg) dan gedung Societeit.
![]() |
| Area Alun-Alun Kota Bogor Tempo Doeloe (Now) |
Tunggu deskripsi lengkapnya
Aloen-Aloen Empang
Sebelum aloen-aloen Empang dibangun, area aloon-aloon kota Buitenzorg direncanakan untuk peruntukkan untuk bangunan pemerintah dan bangunan komersil. Aloon-aloon Buitenzorg dikorbankan dan sebagai alternatif akan dibangun alun-alun baru di Empang. Mengapa di Empang?
![]() |
| Aloon-Aloon kota Buitenzorg (Peta 1880) |
Dengan adanya aloen-aloen Empang, tamat sudah aloon-aloon kota Buitenzorg. Area eks aloon-aloon, wilayah kampong Paledang, wilayah kampong Gedong Sawah dan wilayah kampong Pabaton menjadi area Eropa-Belanda. Pembangunan aloen-aloen Empang menjadi penanda pemisahan antara wilayah orang Eropa-Belanda dengan wilayah penduduk pribumi.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kilas Balik Alun-Alun Kota Bogor: Menggusur Taman Ade Irma Suryani Nasution
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar