Sejarah Bogor (47): Pulau Geulis dan Lebak Pasar; Pulau di Tengah Sungai Ciliwung dan Area Kampong Babakan di Bawah Pasar
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
Pulau Geulis & Lebak Pasar ibarat pulau di tengah samudera & pantai daratan. Tidak terpisahkan satu sama lain. Kedua area ini berada di satu lembah yang dipisahkan oleh sungai Ciliwung. Oleh karena itu ?Mereka? Tetap terikat hingga ini hari sebagai satu kelurahan: Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Keterikatan mereka menjadi satu wilayah bukanlah baru-baru ini, tetapi, bahkan telah semenjak usang, sejak namanya secara geografis diidentifikasi memakai nama Poelaoe Poetri. Disebut Pulau Geulis baru belakangan.
Seperti halnya Sempur, aku kenal benar dengan wilayah (kelurahan) Babakan Pasar ini, paling nir dalam athun baru 1980an saya kerap berkunjung ke loka teman-sahabat yang berada di dekat Jalan Otista yang diklaim Lebak Pasar. Area Lebak Pasar ini berbatasan di hilir sungai dengan Kebun Raya dan di sisi utara sungai dengan kelurahan Baranang Siang. Tidak hanya itu menurut area Lebak Pasar jua mampu akses ke jalan Pulau Geulis melalui jembatan bambu (sekarang pulau hanya dihubungkan jembatan ke arah utara pada jalan Riau). Pulau ini satu kesatuan daerah dengan Lebak Pasar
Pulau Geulis dan Lebak Pasar bukanlah kampong biasa, meski belakangan ini terkesan biasa-biasa saja. Pulau Geulis sudah ada penghuninya sejak lama, sejak adanya pasar. Nama Lebak Pasar muncul seiring dengan adanya pasar Buitenzorg, namun tidak begitu jelas apakah pada era VOC atau era Pemerintah Hindia Belanda. Yang jelas nama Lebak Pasar dan nama Pulau Geulis sudah lama adanya. Sebelumnya nama Poeloe Poetri disebut sebagai Pulau Gadis (het eiland der Jonkvrouw). Kampong yang berada di pulau disebut Kampong Poelo (tempat prostitusi). Karena itu ada juga yang menyebutnya sebagai Noesa Lara[ng] (menurut KF Holle pulau terlarang). Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Kelurahan Sempur dan Kelurahan Babakan Pasar (Now) |
Pulau Geulis di Babakan Pasar di Land Bloeboer
Nama kampong Babakan sudah lama ada. Sudah diidentifikasi bersama kampong Pondok Sempoer dan kampong Baranang Siang pada Peta 1701. Tiga kampong ini langsung berbatasan dengan sisi utara sungai Tjiliwong. Dalam perkembangannnya wilayah hulu sungai Tjiliwong mulai dikavling-kavling dalam satuan tanah partikelir (land). Area sisi selatan sungai Tjiliwong disebut land Kampong Baroe atau land Bloeboer; sementara area sisi utara sungai Tjiliwong disebut land Kedong Halang (termasuk kampong Baranangsiang, kampong Babakan dan kampong Sempoer). Land Kampong Baroe milik Bupati di Kampong Baroe (Luitenan Tanoedjiwa); sedangkan land Kedonghalang meilik kepala kampong Kedong Halang. Kampong Baroe sendiri berada di Land Kedong Halang (dimana bupati berada). Bupati Kampong Baroe adalah saudara dari kepala kampong Kedong Halang.
![]() |
| Jembatan di atas sungai Tjiliwong di Lebak Pasar (Lukisan 1772) |
Sejak adanya villa Imhoff di hulu sungai Tjiliwong (land Bloeboer), semakin banyak peminat dari Batavia (pedagang VOC) yang membangun pertanian atau sekadar tempat tinggal di land Bloeboer (area di antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane).
![]() |
| Persil Lebak Pasar (Peta 1772) |
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pasar Buitenzorg dan Pulau Geulis
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar