Sejarah Bogor (42): Sejarah Sindang Barang, Kampung Budaya di Pasir Eurih; Baca Sejarah Masa Lampau Tidak Mudah
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor pada blog ini Klik Disini
Di Bogor terdapat nama kampung diklaim pula kampung budaya, yakni Kampung Sindang Barang. Menurut cerita, kampung ini diyakini penduduk setempat sudah masih ada sejak abad ke-12. Itu berarti kampung Sindang Barang telah terdapat sebelum kerajaan Pakwan-Padjadjaran runtuh (kemudian ditinggalkan begitu usang). Satu perseteruan yg ada pada narasi sejarah adakalanya klaim yg satu dapat merugikan (meniadakan) pihak lain. Narasi sejarah yang benar nir satu pihak diuntungkan yg menyebabkan terdapat pihak lain yg dirugikan.
![]() |
| Kampung Sindang Barang tempo doeloe (Peta 1900) |
Bagaimana gambaran (fakta dan data) masa lampau kampong Sindang Barang tentu saja masih menarik untuk ditelusuri, apalagi kampong Sindang Barang sudah ditabalkan sebagai suatu kampong budaya. Namun yang tetap diperhatikan dalam sejarah adalah upaya menggali data yang valid sedalam-dalamnya dan menganalisis data seluas-luasnya. Sebab sejarah adalah narasi fakta dan data. Jika metodologi sejarah tidak diterapkan, lebih-lebih tentang sejarah masa lampau, kita sebenarnya tidak tahu apa pun. Melestarikan budaya sebagai suatu kebajikan adalah satu hal, menarasikan sejarah adalah hal lain lagi. Okelah, untuk menambah pengetahuan, sedikit apa pun yang bisa dikontribusian dalam narasi sejarah masih dapat berguna jika tidak dilakukan sama sekali. Mangga, kita kumpulkan sejarah Sindang Barang berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Peta 1850 |
Kampong Sindang Barang di Sungai Tjisindangbarang; Kampong Pasir Eurih di Sungai Tjieurihbarang
Pada Peta 1900 di land Dramaga terdapat lima tempat yang menyandang nama Sindang Barang. Kelima nama tempat (kampong) itu adalah Sindang Barat Kolot, Sindang Barang Oedik, Sindang Barang Hilir dan dua Sindang Barang saja. Dari namanya, Sindang Barang Kolot yang lebih tua karena namanya disebut kolot (tua, lama). Kampong Sindang Barang Oedik dan kampong Sindang Barang Hilir berada di jalan raya (jalan pos Buitenzorg-Tjiampea-Djasinga). Kampong Sindang Barang Kolot berada tepat di sisi utara sungai Sindang Barang.
.
![]() |
| Kampong Sindang Barang dan kampong Pasir Eurih (Peta 1900) |
Sungai Sindang Barang di satu arah bermuara ke sungai Tjiapoes (di sekitar Dramaga), sebelum sungai Tjiapoes bermuara ke sungai Tjisadane (di belakang IPB). Sementara di arah lain, sungai Sindang Barang bermuara di lereng gunung Salak di dekat kampong Pasir Eurih. Tidak jauh dari kampong Pasir Eurih terdapat kampong Kota Batoe. Antara kampong Pasir Eurih dengan kampong Kota Batoe dibatasi oleh hulu sungai Tjiomas. Pertanyaannya mana yang lebi tua: Kampong Sindang Barang Kolot atau kampong Pasir Eurih?
Di kampong Pasir Eurih mengalir sungai Tjieurihbarang. Sungai Tjieurihbarang ini bermuara ke sungai Tjisandangbarang. Seperti disebutkan di atas, ada nama kampong Sindang Barang (saja) di hulu sungai Sindang Barang. Dalam hal ini pada dasarnya kampong Pasir Eurih secara geografis berada di daerah aliran sungai Sindang Barang. Seperti dilukiskan di dalam peta di samping, pada masa ini Sidang Barang adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, sedangkan Kota Batu adalah salah satu desa di kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor (dimekarkan dengan membentuk kecamatan Taman Sari).
Penempatan Penduduk di Wilayah Tidak Berpenghuni
Pada awal kehadiran orang Eropa-Belanda di hulu sungai Tjiliwong pada tahun 1687, belum begitu banyak kampong-kampong yang terbentuk di hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane. Bahkan kota Bogor yang sekarang saat itu masih kosong tanpa didiami penduduk.
![]() |
| Radius area bencana gunung Salak dan DAS Sindang Barang |
Pada ekspedisi yang dilakukan pada tahun 1701 hanya beberapa nama tempat yang diidentifikasi di sekitar gunung Salak dan gunung Pangrango. Hanya beberapa tempat yang diidentifikasi yang dapat dikatakan kampong (beberapa rumah) seperti kampong Kedong Halang, Kampong Baroe, Tjiloear, Katoelampa dan Tadjoer. Selebihnya hanya suatu perkampongan awal yang hanya terdiri dari satu atau dua pondok (tempat suatu keluarga membuka lahan) seperti Pondok Sempoer, Pondok Benteng dan Kedong Waringin (Kedong Badak).
![]() |
| Kampong Pasir Eurih (Now) |
Kampong-kampong baru semakin banyak bermunculan seiring dengan semakin terbukanya ruang wilayah di hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane. Pemicu munculnya perkamponga baru karena di hulu sungai Tjiliwong (dekat Kampong Baroe) dan di hulu sungai Tjisadane (dekat kampong Tjiampea) sudah dibangun benteng VOC (termasuk benteng-benteng kecil di Bantar Pete, Tjisaroea, Panjawoengan (Leuwiliang) dan Djasinga serta di Goenoeng Goeroeh-Goenoeng Parang (Soekaboemi). Pembukaan ruang wilayah diikuti dengan introduksi kopi.
Pada tahun 1703 Direktur VOC, Abraham van Riebeeck memimpin ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong dan juga bertemu dengan pemimpin lokal di Priangan (Bupati Tjiandjoer). Pada tahun 1703 Abraham van Riebeeck diberi izin untuk membuka lahan di Bodjongmanggis (Bojonggede). Sepulang jadi Gubernur di Malabar, pada tahun 1709 menjadi Gubenur Jenderal VOC. Pada tahun 1711 Abraham van Riebeeck mengintroduksi tanaman kopi di daerah hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane yang kemudian diperluas ke Priangan (Preanger). Kontrak-kontrak dibuat dengan pemimpin lokal: bupati Kampong Baroe, bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng. Bupati Kampong Baroe memimpin penduduk untuk menanam kopi di sekitar lereng gunung Salak dan gunung Pangrango.
Sejak introduksi kopi di hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane, seiring dengan penempatan penduduk (yang dipimpin Bupati Kampong Baroe) dan pembukaan lahan-lahan baru oleh penduduk (migran), para investor Eropa-Belanda yang sebelumnya terkonsentrasi di sekitar Batavia dan daerah hilir sungai Tjisadane, sungai Tjilengsi dan sungai Tjitaroem mulai meluas ke hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane.
Pada tahun 1740 terjadi kerusuhan di Batavia yang dipicu oleh pemberontakan yang dilancarkan oleh para migran (para pekerja asal) Cina. Para migran Cina sudah menyebar di berbagai tempat di ereal-areeal perkebundan pedagang VOC bahkan hingga ke hulu sungai Tjiliwong, Tjilengsi dan Tjisadane. Kerusuhan ini berakibat fatal hampir 10.000 orang migran Cina terbunuh. Sebagian yang lain dapat diamankan dan sebagai yang lain melarikan diri (terpencar) menyatu dengan orang Cina yang sudah sejak lama berada di Hindia. (kelak orang-orang Cina yang berada di berbagai tempat di hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane membentuk kluster di sekitar Buitenzorg yang ditempatkan pada suatu kampement (cikal bakal Pasar Bogor).
Beberapa land sudah terbentuk sejak awal seperti land Depok, land Pondokterong dan land Bodjogmanggis, land-land baru terbentuk di sisi timur sungai Tjiliwong seperti land Tjibinong dan land Tjiloear serta land Yemans (Tjimanggis) dan area antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane, seperti land Tjileboet, land Kedongbadak dan land Tjiampea. Satu yang terpenting dari investor ini adalah Gubernur Jenderal van Imhoff pada tahun 1745 membangun villa mewah di dekat benteng Padjadjaran (kini menjadi cikal bakal Istana Bogor). Lahan sekitar dua benteng (Fort Padjadjaran dan benteng Bantat Pete), area titik singgung terdekata antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane kemudian disebut Land Bloeboer.
Bupati Kampong Baroe yang beribukota dekat Kedong Halang, memimpin sejumlah demang. Salah satu demang yang terkenal adalah Demang Dramaga. Seperti Bupati Kampong Baroe yang mengusahakan pertanian kopi ke arah Tjiseroa, demang Dramaga juga mengusahakan pertanian kopi ke arah lereng gunung Salak dan daerah aliran sungai Tjianten.
Pada tahun 1752 terjadi serangan dari Banten di sekitar hulu sungai Tjisadane dan hulu sungai Tjiliwong. Villa mantan Gubernur Jendeal van Imhoff juga hancur. Komandan benteng Fort Padjadjaran saat itu adalah Luitenant Jan Andries Duurkoop. Untuk memulihkan keadaan beberapa detasemen dikirim dari Batavia. Dalam kasus serangan ini demang Dramaga diduga terlibat yang kemudian diasingkan ke Afrika Selatan (tempat para tahanan politik dari berbagai daerah).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kampong Sindang Barang di Land Dramaga
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kampong Pasir Eurih di Land Tjiomas
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com









Tidak ada komentar:
Posting Komentar